Menulis Sebagai Bukti Perawat Itu Ada dan Hidup Selamanya

Post Top Ad

April 11, 2017

Asuhan Keperawatan pada Pasien Ansietas

by , in
Ilustrasi perasaan ansietas yang menjadi permasalahan banyak orang
Sumber foto dari Google
A.  Definisi
      Ansietas merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatic, yang menandakan suatu kegiatan berlebihan dari susunan saraf autonomic (SSA).

      Ansietas merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik, dan sering merupakan satu fungsi emosi. Ansietas yang patologik biasanya merupakan kondisi yang melampaui batas normal terhadap satu ancaman yang sungguh-sungguh dan maladaptive (Kaplan, Harold I 1998).

      Ansietas merupakan respon normal terhadap situasi yang mengancam dan dapat menjadi faktor motivasi yang positif sepanjang daur kehidupan manusia (Varcolis, 2006).

B. Etiologi

1.  Teori psikoanalisis
Freud adalah orang pertama yang mencoba menjelaskan secara sistematis perkembangan perilaku fobik. Menurut freud, fobia merupakan pertahana terhadap kecemasan yang disebabkan oleh impuls-impuls id yang ditekan.

Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya. Fobia muncul ke permukaan ketika pada masa dewasa, seseorang mengalami beberapa bentuk stres.

2.  Teori behavioral
Teori behavioral berfokus pada pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia. Beberapa tipe pembelajaran mungkin berperan:

a.  Avoidance conditioning
Melalui  classical conditioning (CS) seseorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral CS, jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara intrinsik menakutkan atau menyakitkan.

b.  Modeling
Selain belajar untuk takut terhadap sesuatu sebagai akibat pengalaman yang tidak menyenangkan dengannya, ketakutan dapat dipelajari dengan meniru reaksi orang lain.

Dengan demikian, beberapa fobia dapat terjadi melalui modeling, bukan melalui pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap objek atau situasi yang ditakuti. Berbagai perilaku, termasuk respons-respons emosional, dapat dipelajari dengan menyaksikan suatu model.

Pembelajaran terhadap rasa takut dengan mengamati orang lain secara umum disebut sebgai vicarious learning. Vicarious learning juga dapat terjadi melalui instruksi verbal, yaitu reaksi fobik dapat dipelajari melalui deskripsi yang diberikan orang lain tentang apa yang mungkin terjadi selain melalui observasi terhadap ketakutan orang lain.

3.  Teori kognitif
Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berfikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap.

Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk menanggapi stimuli negatif, menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan mempercayai bahwa kejadian negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang.

Teori kognitif mengenai fobia juga relevan untuk berbagai fitur lain dalam gangguan rasa takut yang menetap dan fakta bahwa ketakutan tersebut sesungguhnya tampak irasional bagi mereka yang mengalaminya.

Fenomena ini dapat terjadi karena rasa takut terjadi melalui proses-proses otomatis yang terjadi pada awal kehidupan dan tidak disadari. Setelah proses awal tersebut, stimulus dihindari sehingga tidak diproses cukup lengkap dan yang dapat menghilangkan rasa takut tersebut.

4.  Faktor biologis
a.  Faktor sistem saraf otonom
Orang yang mengalami fobia sosial sering kali merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah atau berkeringat secara berlebihan didepan umum. Karena berkeringat dan memerahnya wajah dikendalikan oleh sistem saraf otonom, aktivitas sistem saraf otonom yang berlebihan kemungkinan merupakan suatu diathesis.

Dengan demikian, bila aktivitas otonom yang berlebihan (tercemin dalam memerahnya wajah) memiliki relevansi dengan fobia sosial, rasa takut terhadap konsekuensi aktivitas otonom mungkin merupakan hal yang lebih penting.

b.  Faktor genetic
c.   Aktivitas noradrnergik
Teori biologi lain menyatakan bahwa panik disebabkan oleh aktivitas yang berlebihan dalam sistem noradrenergik (neuron yang menggunakan norepinefrin sebagai neurotransmitter).

Pemikiran lain tentang aktivitas noradrenergik yang berlebihan adalah baha hal itu disebabkan oleh suatu masalah dalam neuron gamma-aminobutyric (GABA) yang secara umum menghambat aktivitas noradrenergik.

Penelitian biologi lain memfokuskan pada manipulasi eksperimental yang dapat menimbulkan serangan panik. Salah satu pendekatan berpendapat bahwa serangan panik berhubungan dengan hiperventilasi atau pernafasan berlebihan.

Hiperventilasi dapat mengektifkan sistem  saraf otonom, sekaligus memicu aspek-aspek somatik yang tidak asing dalam suatu episode panik.

5.  Teori psikologis

Teori psikologis utama mengenai agorafobia yang sering menyertai gangguan panik adalah hipotesis ketakutan-terhadap-ketakutan, yang berpendapat bahwa agorafobia bukanlah ketakutan terhadap tempat-tempat umum itu sendiri, melainkan ketakutan mengalami serangan panik di tempat umum.

C.  Tingkatan Ansietas

Rentang respon Ansietas
Sumber foto dari Google
Menurut beberapa ahli, ada 4  tingkat ansietas yaitu:
1.    Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.

Ansietas memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas (Stuart dan Sundeen ,1998:175-176).

Pada ansietas ringan individu dapat memproses informasi, belajar, dan menyelesaikan masalah. Keterampilan kognitif mendominasi tingkat ansietas ini. (Videbeck, 2008: 309).

2. Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. (Stuart dan Sundeen ,1998:175-176)

3.  Ansietas Berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cendrung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal lain.

Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. (Stuart dan Sundeen ,1998:175-176).

Individu yang mengalami ansietas berat sulit berpikir dan melakukan pertimbangan, otot-ototnya menjadi tegang, tanda-tanda vital meningkat, dan ia mondar-mandir, memperlihatkan kegelisahan, irritabilitas, dan kemarahan, atau menggunakan cara psikomotor-emosional yang sama lainnya untuk melepaskan ketegangan (Videbeck, 2008: 309-310).

4. Tingkat Panik dari ansietas berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Rincian terpecah dari proporsinya, tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan.

Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang, kehilangan pemikiran rasional. (Stuart dan Sundeen ,1998:175-176).

Dalam keadaan panik, alam psikomotor emosional individu tersebut mendominasi, disertai respons fight, flight, atau freeze. Lonjakan adrenalin menyebabkan tanda-tanda vital sangat meningkat, pupil membesar untuk memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk, dan satu-satunya proses kognitif berfokus pada pertahanan individu tersebut (Videbeck, 2008: 309).

Tabel Perbedaan Respon Tingkat Ansietas
No
Tingkat Ansietas
Respon Fisik
Respon Kognitif
Respon Emosional
1
Ringan
Ketegangan otot ringan, sadar akan lingkungan, rileks atau sedikit gelisah, penuh perhatian, rajin, sesekali napas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat sedikit, gejala ringan pada lambung, muka berkerut, serta bibir bergetar
Lapang persepsi luas, mampu menerima rangsangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif dan terangsang untuk melakukan tindakan
Tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, dan suara kadang-kadang meninggi
2
Sedang
Ketegangan otot sedang, tanda-tanda vital meningkat, pupil dilatasi, mulai keringat, sering mondar-mandir, kewaspadaan dan ketegangan meningkat, suara berubah bergetar dan nada suara tinggi, sering berkemih, sakit kepala, mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi.
Lapang persepsi menurun, tidak perhatian secara selektif, focus terhadap stimulasi meningkat, rentang perhatian menurun, penyelesaian masalah menurun, pembelajaran terjadi dengan memfokuskan pemikiran.
Gerakan tersentak-sentak, terlihat lebih tegang, bicara banyak dan lebih cepat, susah tidur, dan perasaan tidak aman.
3
Berat 
Ketegangan otot berat, pengeluaran keringat meningkat, sakit kepala, penglihatan berkabut, serta tampak tegang
Lapang persepsi terbatas, proses berfikir terpecah-pecah, sulit berfikir, penyelesaian masalah buruk, tidak mampu mempertimbangkan informasi, hanya memperlihatkan ancaman,
Perasaan terancam meningkat dan komunikasi menjadi terganggu (verbalisasi cepat)
4
Panik
Flight, fight (keinginan untk pergi selamanya), ketegangan otot sangat berat, napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat, hipotensi, serta rendahnya koordinasi motorik
Persepsi sangat sempit, fikiran tidak logis, terganggu, kepribadian kacau, tidak dapat menyelesaikan masalah, focus pada fikiran sendiri jadi tidak rasional, sulit memahami stimulus eksternal, halusinasi, ilusi mungkin terjadi.
merasa
terbebani, merasa tidak mampu, tidak berdaya, lepas kendali, mengamuk, putus asa, marah, sangat takut, mengharapkan hasil yang buruk, berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan/atau orang lain


E. Proses Terjadinya Ansietas
Patofisiologis gangguan Ansietas
E.  Penatalaksanaan Ansietas
1.  Psikoterapi
Beberapa teknik sering digunakan oleh ahli psikoterapi perilaku (Videbeck, 2008):

a.  Positive reframing, yaitu mengubah pesan negatif menjadi pesan positif. Ahli terapi mengajarkan individu menciptakan pesan positif yang digunakan selama episode panik.

Misalnya, klien diajarkan untuk berfikir,
“Saya dapat memperlambat denyut jantung saya. Ini pasti cuma perasaan cemas.”

b. Assertive Training, yaitu latihan asertif yang membantu individu lebih mengendalikan situasi hidup. Teknik latihan asertif membantu individu menegosiasikan situasi interpersonal dan membangun keyakinan diri.

Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahaan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu psikoterapi dan psikoreligius.

2.  Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial.

3.  Terapi Farmakologi
a.  Antidepresa
Munurut Judith Hopfer (2004), biasanya obat-obat antidepresan digunakan dalam pengobatan berbagai bentuk depresi endogen, sering digabung dengan psikoterapi. Penggunaan lainnya meliputi:

1)  Pengobatan kecemasan (doksepin)
2)  Enuresis (imipramin)
3)  Sindrom nyeri kronis (amitriptilin, doksepin, imipramin, dan nortriptilin

Baca juga tentang Cara Menangani Ansietas

F.  Aktivitas Keperawatan
1.  Pengkajian
Batasan Karakteristik
Faktor yang Berhubungan
Perilaku:
a)  Penurunan produktivitas
b)  Mengekspreikan kekhawatiran akibat perubahan dalam peristiwa hidup
c)  Gerakan yang tidak relevan (misalnya mengeret kaki, gerakan lengan)
d)  Gelisah
e)  Memandang sekilas
f)   Insomnia
g)  Kontak mata buruk
h)  Resah
i)    Menyelidik, dan tidak waspada
a)  Terpajan toksin
b)  Hubunga  keluarga /hereditas
c)  Transmisi, dan penulran interpersonal
d)  Krisis situasi, dan maturasi
e)  Stres
f)   Penyalahgunaan zat
g)  Ancaman kematian
h)  Ancaman, atau perubahan status peran, fungsi peran, lingkungan, status kesehatan, status ekonomi, atau pola interkasi
i)    Ancaman terhadap konsep diri
j)    Konflik yang tidak disadari tentang nilai, dan tujuan hidup yang esensial
k)  Kebutuhan yang tidak terpenuhi
Afektif:
a)  Kesedihan mendalam
b)  Distres
c)  Ketakutan
d)  Fokus pada diri sendiri
e)  Iritabilitas
f)   Gugup
g)  Gembira berlebihan
h)  Marah
i)    Menyesal
Fisiologi
a)  Wajah tegang
b)  Peningkatan keringat
c)  Peningkatan ketegangan
d)  Terguncang
e)  Gemetar, atau tremor di tangan
f)   Suara bergetar
Kognitif
a)  Kesadaran terhadap gejala-gejala fisiologis
b)  Blocking pikiran
c)  Penurunan lapang pandang
d)  Kesulitan untuk berkonsentrasi
e)  Keterbatasan kemampuan untuk menyelesaikan masalah
f)   Keterbatasan kemampuan untuk belajar
g)  Mudah lupa
h)  Gangguan perhatian
i)    Melamun

a.  Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien, termasuk reaksi fisik, setiap 30 menit sekali, disesuaikan dengan tingkat ansietas.
b.  Kaji faktor budaya (misalnya konflik nilai) yang menjadi penyebab ansietas.
c.   Diskusikan bersama pasien tentang teknik yang berhasil, dan tidak berhasil dalam menurunkan ansietas di masa lalu.
d.  Reduksi Ansietas (NIC) : Menentukan kemampuan pengambilan keputusan pasien.

2.  Alternatif Diagnosis yang Disarankan
a.  Konflik pengambilan keputusan
b.  Ansietas kematian
c.   Ketakutan
d.  Ketidakefektifan koping

3.  Intervensi NIC
a.  Bimbingan Antisipasi: Mempersiapkan pasien menghadapi kemungkinan krisis perkembangan, atau situasional.
b.  Penurunan Ansietas: Meminimalkan kekhawatiran, ketakutan, prasangka, atau perasaan tidak tenang yang berhubungan dengan sumber bahaya yang diantispasi, dan tidak jelas.
c.   Teknik Menenangkan Diri: Meredakan kecemasan pada pasien yang mengalami  distres akut.
d.  Peningkatan Koping: Membantu pasien untuk beradaptasi dengan persepsi stresor, perubahan, atau ancaman yang menghambat pemenuhan tuntunan, dan peran hidup.
e.  Dukungan Emosi: Memberikan penenangan, penerimaan, dan bantuan/dukungan selama masa stres.

4.  Hasil NOC
a.  Tingkat Ansietas: Keparahan manifestasi kekhawatiran, ketegangan, atau perasaan tidak tenang yang muncul dari sumber yang tidak dapat diidentifikasi.
b.  Pengendalian Diri Terhadap Ansietas: Tindakan personal untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan khawatir, tegang, atau perasaan tidak tenang akibat sumber yang tidak dapat diidentifikasi.
c.   Konsentrasi: Kemampuan untuk fokus pada stimulus tertentu
d.  Koping: Tindakan personal untuk mengatasi stresor yang membebani sumber-sumber individu.

5.  Kriteria Evaluasi
a.  Ansietas berkurang, dibuktikan oleh tingkat ansietas hanya ringan sampai sedang, dan selalu menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas, konsentrasi, dan koping.
b.  Menunjukkan pengendalian diri terhadap aktivitas yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu):
1)    Merencanakan strategi koping untuk situasi penuh tekanan
2)    Memperkuat performa peran
3)    Memantau distrosi presepsi sensori
4)    Memantau manifestasi perilaku ansietas
5)    Menggunakan teknik relaksasi untuk meredakan ansietas.



DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan: konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba Medika.
Deglin, Judith Hopfer. 2004. Pedoman Obat untuk Perawat Ed.4. Jakarta: EGC.
Davison, Gerald C. (2006). Psikologi Abnormal. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Hudak, Carolyn M. (1997). Keperawatan Kritis; Pendekatan Holistik. Jakarta EGC.
Hawari, D.(2008) Manajemen Stres Cemas dan Depresi, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Kee, Joyce L. 1996. Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC.
Kaplan Harold I. (1998). Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta : Widya Medika.
Mycek, Mary J. 2001. Farmakologi: Ulasan Bergambar Ed. 2. Jakarta: Widya Medika.
Stuart, G.W., & Sundeen, S.J., (1998). Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan). Edisi 3. Jakarta: EGC.
Tarwoto & Wartonah. (2004). Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Videbeck, Sheila L / Renata Komalasari. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Videbeck, Sheila. L. (2008), Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta. EGC.
April 09, 2017

Ansietas

by , in
Salam sehat sahabat PeTrav.

Semoga pagi ini tetap bugar selalu ya!

Hari ini aku mau share tentang media promosi Ansietas. Bagi mahasiswa keperawatan pasti tahukan tentang Ansietas ini. Bahkan ini merupakan diagnosa yang sering muncul pada pasien. Nggak cuman pasien, tapi kita sering juga Ansietas, apalagi saat mau ujian.

Ok gan, karena ini rubrik Media Promosi, aku akan lampirkan saja bentuk leafletnya. Sedangkan pembahasannya, nanti ada rubrik Asuhan Keperawatan, Tips Keperawatan, dan Ceritaku yang membahas tentang Ansietas lebih lanjut.

Pembahasan Ansietas disisi dalam Leaflet


Pembahasan Ansietas disisi luar Leaflet

Note : Bagi Sahabat PeTrav yang ingin mendapatkan materi tentang Ansietas, silahkan tinggalkan komentar di blog ini.

Salam Senyum Bahagia,
YELLI SUSTARINA
Mobile -- 0852 6008 0834 -- IG @yell_saints -- twitter @yellisustarina -- Line 085260080834
Berdomisili di Jalan K. Nago -- Lampaseh Aceh -- Meuraxa -- Kota Banda Aceh. 
April 08, 2017

Ini Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Penggunaan Obat

by , in

Tanpa disadari kita sering mengalami kesalahan dalam penggunaan obat. Demam sedikit, langsung minum obat jenis A, tanpa ada konsultasi dengan dokter. Padahal obat ialah racun bagi tubuh, semakin banyak obat yang dikonsumsi tubuh maka akan mengakibatkan resistensi, atau berpengaruh buruk bagi tubuh terutama bagian hati, dan ginjal.

Kesalahan penggunaan obat dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidak tepat, sehingga tidak berefek untuk menyembuhkan, tapi malah membahayakan. Beberapa faktor yang terkait dengan kesalahan penggunaan obat adalah sebagai berikut.

1.  Menggunakan obat tanpa memperhatikan dosis


Perhatikan dosis sebelum mengkonsusmsi obat
Obat dengan nama, atau kemasan yang mirip belum tentu bisa digunakan atau diminum terus. Perlu ditentukan dosisnya sesuai dengan berat badan pasien. Kenyataan yang sering ditemukan ialah mereka menggunakan obat tanpa memperhatikan dosis yang tepat. Akibatnya efek yang ditimbulkan obat tidak ada sama sekali, tapi malah menunjukkan gejala lain.

2.  Kesalahan waktu penggunaan obat


Tentukan jadwal yang tepat saat mengkonsumsi obat
Kesalahan ini sering terjadi karena kita mengukur waktu dengan hari, bukan dengan jam. Misalnya dokter meresepkan untuk minum obat 3 kali sehari. Presepsi kebanyakan orang awam ialah pada waktu pagi, siang, dan malam. Padahal maksud yang sebenarnya ialah setiap 4 jam sekali, karena waktu menurut hari itu relatif, dan tidak bisa diukur.

3.  Berhenti menggunakan obat semasa pengobatan


Minumlah obat sampai selesi terapi pengobatan
Hal ini sangat sering terjadi karena kita merasa sudah sembuh, padahal obat yang diresepkan dokter masih tersisa. Ini memungkinkan akan kambuh kembali penyakitnya dilain waktu, karena siklus pemberian obat tidak dilalui dengan sempurna. 

Obat yang diresepkan dokter, sudah ditentukan jumlah dosisnya, namun karena obat yang sebenarnya berfungsi untuk mematikan kuman atau bakteri yang menginfeksi tubuh tidak diminum sepenuhnya, maka ada kuman atau bakteri yang tersisa sehingga memungkinkan untuk kambuh kembali sakitnya. 

Oleh karena itu jika dokter memberikan obat, hendaknya diminum sampai habis, walaupun sudah merasa sehat sepenuhnya.

4.  Menggunakan obat tanpa melakukan tes alergi obat


Uji alergi obat perlu dilakukan sebelum menggunakan jenis obat tertentu
Tidak semua orang cocok dengan obat yang sama. Ada sebagian yang alergi terhadap obat sehingga memuculkan efek lain. Maka dari itu perlu dilakukan uji alergi sebelum mengkonsumsi obat.

Perlu diingat sekali lagi, obat ialah racun bagin tubuh kerena dia adalah benda asing bagi tubuh. Kesalahan dalam penggunaan obat dapat mengakibat kecacatan, dan kematian. Jika ingin efek obat tersebut untuk mengobati bagian tubuh yang sakit, maka gunkanlah obat sesuai dengan prinsip benar meminum obat.
April 05, 2017

Ketentuan Mengikuti Uji Kompetensi Perawat

by , in
Suasana Ujian Kompetensi Menggunakan Sistem CBT

Salam sehat sahabat perawat traveler (PeTrav).

Sudah lama banget ya, blog ini ngangur, dan nggak pernah diisi lagi dengan konten tulisan yang menarik.

Iyalah, kemarin tu lagi fokus untuk menyelesaikan gelar ners, alhamdulillah sekarang benaran sudah jadi perawat. Saatnya kita mulai perjalanan menjelajah dunia keperawatan.

Untuk kali ini, aku mau cerita tentang pengalaman mengikuti Ujian Kompetensi Ners Indonesia (UKNI), yang dilaksanakan pada tanggal 1-3 April 2017 kemarin.

Aku dapat giliran pada hari ke 3, jadi dapat belajar banyak sebelum mengikuti ujian sebenarnya. Sebelumnya sudah ada pengayaan semacam bimbingan belajar, untuk membahas soal UKNI yang diadakan pihak kampus selama 3 hari. Jadi kita mengetahui kemungkinan bentuk soal yang keluar saat UKNI nantinya.

Dua bulan sebelum UKNI, kita juga diwajibkan untuk mengikuti try out supaya mendapat gambaran tentang proses ujian UKNI. Secara gitukan ujiannya menggunakan Computer Base Test (CBT), dengan adanya try out kita bisa lebih familiar menggunakan fitur-fitur yang disediakan, dan juga belajar untuk meng-klik pilihan jawaban dari soal yang disediakan.  

Peraturan Ujian

Setiap ujian pasti ada peraturanya dong, dan peraturan ini akan disampaikan satu hari sebelum ujian berlangsung, dan wajib diikuti oleh para peserta ujian. Istilahnya brefing.

Brefing UKOM

Sahabat PeTrav jangan kaget dengan peraturan Uji Kompetensi (UKOM) ini, karena kita tidak diizinkan membawa apapun di dalam ruang ujian, kecuali kartu ujian, dan tanda pengenal. Iya., benaran deh!

Ini yang harus dibawa saat UKNI

Nah, jika kedapatan membawa barang-barang seperti handphone, laptop, radio, HT, kamera, bahkan jam tangan sakalipun, lansung dikeluarkan dari ruangan, dan ujian dianggap gagal. Sadis banget ya, itulah namanya peraturan.

Pesarta Terlambat Bagaimana?

Peserta ujian yang terlambat pada saat login ujian sudah berlangsung, tidak diperkenankan masuk ke ruangan, dan mengikuti ujian.

Peserta ujian sudah mulai mengerjakan soal UKNI

Maka dari itu peserta ujian diharuskan datang satu jam sebelum ujian dimulai. Kita akan di karangtina dulu sebelum masuk ke ruang ujian. Saat itu nanti semua barang-barang kita, termasuk tas, dan dompet diserahkan ke pihhak panitia untuk diamankan. Termasuk makanan, dan air mineral.

Para peserta akan diabsen, bahkan sampai 5 kali absen sebelum memasuki ruang ujian. Ribet bangetkan! Ya., begitulah yang namanya peraturan.

Nah, untuk peserta ujian yang datang terlambat saat peserta ujian masih mengerjakan soal latihan, maka masih dibolehkan masuk untuk mengikuti ujian. Tapi, sahabat PeTrav pasti tidak sempat mengerjakan soal latihanya, karena harus mengisi nomor Id, dan pasword di CBT-nya. Jadi, usahakan jangan sampai terlambat ok!

Sesi Ujian

Tiap peserta akan mendapatkan satu amplop yang berisi nomor id, dan pasword. Amplop tersebut baru bisa dibuka jika sudah ada instruksi dari pantia ujian. Setelah itu masing-masing peserta akan memasukkan nomor id, dan pasword tersebut, dan langsung akan keluar nama paserta.

Ujian baru bisa dimulai ketika sudah ada aba-aba dari pusat untuk memulainya

Sebelum memulai ujian, nanti akan muncul lembar pernyataan persetujuan untuk mengikuti ujian. Beberapa peraturan terlampir disitu, dan jika melanggar, peserta dinyatakan tidak lulus. Mau tidak mau kita harus setuju dengan pernyataan tersebut dengan meng-klik tanda setuju untuk bisa memulai ujian.

Pada sesi ujian ini terdiri dari dua bagian, login pertama untuk mengerjakan soal latihan. Soal ini tidak mempengaruhi nilai ujian, karena hanya untuk menguji coba komputer yang digunakan bekerja dengan baik atau tidak. Sesi latihan terdiri dari sepuluh soal dalam waktu 3 menit.

Login yang kedua ialah ujian yang sebenarnya. Terdiri dari 180 soal dengan waktu 180 menit, atau 3 jam. Ujian akan bisa dimulai jika sudah ada instruksi dari pusat untuk memulai ujian.

Jadi dikarenakan ujiannya yang begitu lama, dan soalnya banyak, gunakan waktu seefektif mungkin untuk menjawab soal. Usahakan tetap fokus di 1 jam pertama ujian.

Setelah menjawab semua soal, dan mengumpulkan jawaban, ada kuesioner yang harus diisi peserta mengenai pelaksanaan UKOM. Disitu kita bisa memberikan saran untuk perbaikan sistem UKNI kedepannya.

Itulah beberapa ketentuan dalam mengikuti UKOM perawat, dan alhamdulillah aku sudah mengikutinya. Selama peraturanya kita patuhi, dan diikuti secara adat, cieile bahasanya hehehe, tidak ada masalah tu. Yang terpenting kita tetap semangat, dan yakin terhadap kemampuan kita.

Urusan hasil, kita serahkan kepada Allah swt. Tentunya jangan lupa berdoa meminta supaya diluluskan UKNI, sehingga bisa melanjutkan ke tahap pengurusan Surat Tanda Registrasi (STR) perawat.

Oia, untuk hasil UKNI akan dikeluarkan tiga bulan berikutnya setelah ujian dilakukan. Proses ini lama karena jawaban para peserta nanti akan di review lagi oleh para pembuat soal, untuk menentukan standar kelulusan perawat. Jadi, harus bersabar ya! Kan sabar bagian dari iman.

Cukup ini dulu ya cerita dari perawat traveler, tunggu cerita berikutnya saat perawat traver menelusuri berbagai lingkup dunia keperawatan.
Salam sehat sahabat petrav. Semoga sukses!


My Instagram