“Anak orang aja
dirawat, apa lagi anak kamu” statusku di medsos sambil menggendong seorang bayi
yang baru saja selesai dimandiin.
![]() |
Udah punya anak aja, Bapaknya mana tuh? :) |
Capture
seperti
itu sering kali digunakan oleh mahasiswi praktek (CoAss) perawat traveler kayak aku ini. Bukan karena pamer ya, tapi
ada kepuasan bathin tersendiri ketika kita memberikan yang terbaik untuk
pasien, walaupun sebenarnya kita belum pernah mengalaminya.
Kegiatan perawatan
pada bayi misalnya seperti memandikan bayi, mengganti popok, memberi susu,
maksudnya susu botol ya! mendiamkan bayi yang sedang menangis, sampai
menidurkanya, kita lakukan layaknya seorang ibu, meskipun kita sendiri belum
jadi seorang ibu. Berutung bangetlah ya dapat istri perawat (nggak papakan promosi).
Awalnya aku juga
sempat shock dengan aktivitas ini,
meskipun sudah pernah belajar teorinya dan praktek di phantom (boneka praktek), tapi jelas dong berbeda saat kita
menghadapi langsung dengan pasien. Apalagi yang kita hadapi ini bayi-bayi yang
baru lahir, udah kecil, licin, ditambah lagi kalau sudah nangis, bisa pusing
tujuh keliling dibuatnya.
Sebagai seorang
perawat yang harus siap dengan kondisi apapun, aku harus menunjukkan sikap
profesionalku. Padahal dirumah sendiri saat kakakku melahirkan, jarang sekali
aku memegang keponakanku itu, takut nanti kenapa-kenapa. Saat dia menangis atau
popoknya basah aku harus teriak-teriak dulu memanggil ibu atau kakakku. Tapi,
tidak saat posisiku mengenakan baju putih, aku harus tanggap dengan hal-hal
seperti itu. Sedikit saja ada terdengar tangisan bayi, cup,cup,cup, aku langsung menggendongnya.
Ada tiga alasan
yang perlu diketahui saat bayi menangis. Pertama karena lapar, kedua karena
popoknya basah, dan yang ketiga minta dipegang atau digendong. Tentunya aku
harus peka dengan tiga hal itu, harus bisa menggantikan popok, membuat susu
botol atau menyuruh ibunya untuk menyusui, dan berperan sebagi ibu pengganti
saat bayinya menangis.
![]() |
Kita ganti dulu popoknya ya dek! |
Biasanya pasien
ibu muda yang baru melahirkan sangat takut untuk memegang bayinya, meskipun
tidak semuanya begitu. Tapi ada lhoe pasien yang tidak tau bagaimana mengganti
popok, memandikan, membedung bayi, cara menyusui yang benar, dan saat bayinya
menangis, justru dia panik dan panggil-pangil perawat.
Disinilah peran
kita sebagai perawat, membimbing dan mengajari mereka. Meskipun kita nggak
bisa-bisa kalilah, tapi profesi yang menuntut kita harus bisa melakukannya, dan
akhirnya memang bisa.
Ketika memandikan
bayi saja misalnya. Harus serba hati-hati melakukannya, karena kulit bayi yang
sangat sensitif dan sangat mudah mengalami
hipotermi (penurunan suhu). Belum lagi saat disiram pakai air bayinya
menangis dengan kencang membuat hati deg-degkan.
![]() |
Yuk.,, mandi, mandi, mandi, biar bersih! |
Kemudian saat
dapat piket malam, lagi enak-enaknya tidur dan baru sebentar menyandarkan
kepala di meja nurse station, eh
tiba-tiba ada panggilan tangisan bayi yang begitu keras membuat kaki harus beranjak
dari tempat peristirahatan, menuju ke sumber suara. Cup,cup,cup,cup tidurlah sayang sambil menggendong si bayi
tersebut, padahal mata tinggal 5 watt lagi.
Kalau bukan si
bayi yang panggil, mamaknya yang panggil bu perawat tolong gantiin popoknya,
bubuk perawat asinya nggak keluar, bu perawat bayinya nangis, bu perawat bayi
nggak mau tidur, bu perawat, bu perawat, dan bu perawat. Benar-benar harus
sabar deh jadi perawat.
Banyak pelajaran
yang dapat aku ambil saat praktek di stase Keperawatan Maternitas ini.
Disinilah aku terbayang sosok ibu yang begitu sabar merawat dan membesarkanku.
Meskipun aku belum punya anak (dikarenakan belum punya suami), tapi aku
bisa merasakan bagaimana tulusnya cinta dan kasih sayang IBU.
Mbak, telaten banget. Salut :)
BalasHapusHehehe, tuntutan profesi mbak! :)
BalasHapushuhuhuuu aku gendong aja gag berani *shudders*
BalasHapusHarus berani dong mbak! kan nggk mungkin nanti anaknya digendongin sama baby sister aja :D
Hapus