Saat seseorang masuk rumah sakit atau diopname karena sakit, ada beberapa
stigma negatif yang muncul sehingga menimbulkan rasa takut dan cemas yang
berlebih. Sebagai seorang perawat tentunya aku harus mengetahui kondisi pasien
dari A sampai Z, betul ngak?
Aku juga
menanyakan tentang hal yang ditakuti pasien ketika masuk rumah sakit, kepada
pasien-pasien yang aku jumpai. Walaupun sebenarnya tidak termasuk dalam form
pengkajian keperawatan, tapi sebagai perawat traveler yang mempunyai rasa ingin
tahu tinggi, mengungkap yang tersirat menjadi tertulis, point ini wajib
ditanyakan ke pasien yang pernah aku rawat. Berikut jawaban mereka tentang hal
yang ditakuti ketika masuk rumah sakit.
1. Disuntik
![]() | |
Kalau kakak yang suntik, pasti nggak sakit, :D |
Banyak orang berfikir ketika masuk rumah sakit, maka dia
akan disuntik saat diberikan obat. Padahal tidak semua terapi/pengobatan harus
menggunakan jarum suntik untuk memasukkan obat.
Ada banyak cara atau
rute untuk memasukkan obat ke tubuh pasien; seperti lewat mulut (oral), diletakkan
di bawah lidah (sublingual), dengan cara dioleskan ke permukaan tubuh (topikal),
dan selain melalui saluran cerna atau saluran nafas (parenteral).
Pemberian obat
dengan cara disuntik merupakan rute parenteral. Obat dapat disuntikkan ke tubuh
pasien di 4 tempat yaitu; Subkutan diberikan ke dalam jaringan subkutan di
bawah kulit. Intramuskular diberikan ke dalam otot. Intradermal diberikan di
bawah epidermis dan intravena diberikan ke dalam pembuluh darah vena.
Dokter akan menginstruksikan terapi
injeksi/suntik, jika ada obat yang harus dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui
tempat yang disebutkan di atas. Akan tetapi jika obat tersebut tersedia dan
bisa dimasukkan dengan cara lain, maka pilihan untuk disuntik menjadi alternatif terakhir, mengingat
disuntik akan menimbulkan rasa sakit pada pasien.
2. Diinfus
![]() |
Sini abang infus Dek..,! |
Ketakutan
dan kecemasan pasien juga akan muncul saat pemasangan infus. Apalagi saat
melihat jarum infus yang bermata runcing siap ditancapkan ke dalam tubuh
pasien. Rasanya waktu cepatlah berputar, atau biarlah tidak sadarkan diri agar
proses ini cepat berlalu, begitulah ungkap salah seorang pasien.
Ketakutan ini
muncul karena pasien mengira jarum saat penusukkan awal pemasangan infus,
ditinggalkan dibawah kulit dalam pembuluh darah vena. Padahal yang tinggal
hanyalah pipa kecil sebagai saluran yang tersambung dengan infuse line/ selang infus disebut dengan abocet.
Penggunaan infus
ini juga hanya untuk pasien-pasien dengan penyakit berat yang membutuhkan
cairan dalam jumlah banyak. Setelah pemasangan infus, tidak ada rasa sakit sama
sekali, hanya saja ada pembatasan gerak pada tempat pemasangan infus tersebut.
3. Naik
darah ke selang infus
Aku
sering dikejutkan oleh teriakan pasien, gara-gara darahnya naik ke selang
infus. Biasanya darah naik ke selang infus karena pasien ke kamar mandi,
sedangkan pengaturan selang infusnya terbuka. Jadi ketika ada gerakan
berlebih, yang memposisikan tangan lebih tinggi dari selang infus, maka darah
akan berbalik atau naik ke selang infus.
Keadaan seperti
ini tidak perlu dikhawatirkan, karena tidak menimbulkan efek bahaya. Namun
perlu tetap diwaspadai bagi pasien yang tidak bisa melihat darah alias mabuk
darah. Jadi jika ada keperluan ke kamar mandi, hendaknya pengaturan infusnya di
kunci atau ditutup dahulu supaya tidak naik darah. Setelah itu jangan lupa
panggil perawat untuk mengatur tetesan infusnya kembali.
4. Ambil
Sample Darah
![]() |
Darahnya cuman sedikit koq diambilnya. |
Pengambilan
sample darah untuk uji laboratorium, juga menjadi hal yang ditakuti oleh
pasien. Alasannya takut darahnya habis, apalagi dalam kondisi sedang sakit.
Padahal darah yang diambil hanya 5 cc atau 5 ml. Tak jarang pembuluh darah
pasien tidak kehilatan saat dipalpasi (raba) atau diinspeksi (dengan kasat
mata) lantaran sangking takutnya.
Darah yang
diambil bisa dari pembuluh vena atau arteri. Jika darah vena yang dimabil,
digunakan untuk mengetahui diagnostik pada beberapa penyakit, melihat
komponen-komponen darah vena, dan mengevaluasi terapi yang sudah diberikan.
Sedangkan pengambilan darah arteri digunakan untuk pemeriksaan analisa gas
darah, yaitu untuk melihat status oksigenasi pasien (tekanan oksigen arterial
[PaO2], ventilasi alveolar/tekanan karbondioksida [PaCO2],
dan untuk menilai keseimbangan asam basa.
Pemeriksaan
darah ini sangat penting dilakukan bagi pasien, karena dari darah inilah bisa
diketahui apa yang sedang bermasalah dalam tubuh pasien, sehingga terapi atau
pengobatanyapun dapat segera dilakukan. Jadi, tidak perlu cemas darahnya akan
habis karena akan digantikan oleh sel-sel darah yang baru.
5. Mendengar
hasil diagnosis dokter
Rata-rata
pasien tidak mau ke rumah sakit atau tidak mau memeriksakan kesehatannya karena
takut mendengar hasil diagnosis dokter. Mareka takut nanti akan didignosis
menderita penyakit yang mematikan dan menjadi beban pikiran.
Aku pernah
berjumpa dengan pasien yang dicurigai tumor payudara. Dokter menyarankan untuk
menjalani prosedur pemeriksaan diagnostik seperti, uji labarotorium, CT scan, USG,
dan biobsi. Namun sang pasien tidak mau melanjutkan rangkaian prosedur
pemeriksaan tersebut karena takut dirinya positif menderita tumor. Beliau
mengeluhkan betapa takutnya dirinya sehingga menjadi beban fikran,
sampai-sampai berat badannya turun.
Stress yang
dialami pasien terhadap penyakit yang dideritanya akan mempercepat proses
jalannya penyakit. Bayangkan jika pasien itu terus menunda-nunda pemeriksaan
diagnostik, maka dia akan dihantui dengan rasa takut terhadap penyakitnya.
6. Mendengar
Suara Monitor
![]() |
Alat pemantau tanda-tanda vital pasien |
Suara
monitor untuk memantau tanda-tanda vital pasien seperti tekanan darah,
kecepatan jantung, pernapasan, suhu, saturasi oksigen yang selalu mengeluarkan
bunyi “tinut, tinut, tinut, tinut” juga
menimbulkan rasa takut bagi pasien.
Selain berisik
suara itu juga membuat bulu kuduk merinding. Biasanya penggunaan monitor
seperti ini bagi pasien-pasien gawat yang perlu pemantauan intesif.
7. Mendengar
Berita Pasien Lain Meninggal
Ketika
ada berita seorang pasien meninggal, maka tak jarang akan meimbulkan ketakutan
bagi pasien lain. Meskipun tidak diucapkan secara langsung, tapi dapat terlihat
dari raut wajah pasien.
Ketakutan ini
tidak saja dialami oleh pasien, tetapi juga bagi keluarga pasien lain yang
mendengar berita kematian tersebut. Apalagi ditambah dengan isak tangis suara
keluarga pasien yang ditinggalkan, membuat suasana tambah mencekam.
Sebenarnya masih banyak
ketakutan-ketakutan lainnya yang dialami pasien, namun ketakutan itu hilang
jika pasien itu mengerti prosedur, kondisi di RS, dan proses terapi atau pengobatan yang sedang
dijalainya. Maka dari itu pasien jangan malu bertanya kepada perawat atau
dokter untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas. Karena pasien dan
keluarganya mempunyai hak untuk mengetahui prosedur dan tindakan medis yang
akan dilakukan kepadanya. Semoga tulisan ini dapat membantu untuk menghapus
ketakutan pasien yang telah terkonsep selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Telah Memberikan Komentarnya - Silahkan Komentar dibawah ini !!!!