![]() |
A. PENDAHULUAN
Hipertensi disebut sebagai The Silent Killer, karena tidak menampakkan gejala
yang khas. WHO memperkirakan sekitar 30% penduduk dunia tidak menyadari adanya
hipertensi (Susilo & Wulandari, 2011).
Hipertensi merupakan
penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7%
dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia (Kemenkes, 2010).
Hipertensi, merupakan salah
satu faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung
dan pembuluh darah. Hipertensi sering tidak menunjukkan gejala, sehingga baru
disadari bila telah menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung
atau stroke.
Tidak jarang hipertensi
ditemukan secara tidak sengaja pada waktu pemeriksaan kesehatan rutin atau
datang dengan keluhan lain. Demikian
disampaiakan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, (Kemenkes,
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama).
Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2007 menunjukkan, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat
belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada
usia 18 tahun ke atas.
Prevalensi hipertensi di
Indonesia sebesar 31,7%, dimana hanya 7,2% penduduk yang sudah mengetahui
memiliki hipertensi dan hanya 0,4% kasus yang minum obat hipertensi Ini
menunjukkan, 76% kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis atau 76%
masyarakat belum mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi.
B. DEFINISI
Hipertensi didefenisikan
sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau tekanan
diastoliknya sedikitnya 90 mmHg. Istilah tradisional tentang hipertensi
“ringan” dan “sedang” gagal menjelaskan pengaruh utama tekanan darah tinggi
pada penyakit kardiovaskular. (Anderson, 2006. h 582).
Hipertensi lebih dikenal
dengan istilah penyakit tekanan darah tinggi. Batas tekanan darah yang dapat
digunakan sebagai acuan untuk menentukan normal atau tidaknya tekanan darah
adalah tekanan sistolik dan diastolik.
Bedasarkan JNC (Joint National
Comitee) VII, seorang dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan sistolik
140 mmHg atau lebih dan diastolik 90 mmHg atau lebih (Chobaniam, 2003).
C. ETIOLOGI
Berdasarkan penyebabnya
hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu sebagai berikut:
1. Hipertensi esensial atau
hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya disebut
juga hipertensi idiopatik.
Terdapat sekitar 95% kasus yang
mengalami hipertensi ini. Faktor yang mempengaruhinya ialah genetik, lingkungan
hiperaktivitas susunan saraf simpatis. Dalam defekekstesi Na peningkatan Na dan
Ca intra selular dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti , alkohol,
merokok, jenis kelamin, usia, diet, berat badan, dan gaya hidup (Kowalski, 2010).
2. Hipertensi sekunder atau hipertensi
renal terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya
diketahui seperti penggunaan esterogen, penyakit ginjal. Hipertensi vascular
renal dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain. (Arif
Mansjoer, 2002 : h 518).
D. KLASIFIKASI
Klasifikasi tekanan darah
mencakup 4 kategori, dengan nilai normal tekanan darah sistolik (TDS) ≤120 mmHg
dan tekanan darah diastolik (TDD) ≤80 mmHg.
Prehipertensi tidak dianggap sebagai
kategori penyakit, tetapi mengidentifikasikan pasien-pasien yang tekanan
darahnya cenderung meningkat ke klasifikasi hipertensi dimasa yang akan datang.
(Joint National Comitee VII,
2003).
Tabel : klasifikasi
hipertensi menurut JNC VII 2003
Kategori TD
|
Tekanan sistolik (mmHg)
|
Tekanan diastolik (mmHg)
|
Normal
|
![]() |
![]() |
Prehipertensi
|
120-139
|
80-89
|
Hipertensi stadium 1
|
140-159
|
90-99
|
Hipertensi stadium 2
|
![]() |
![]() |
Krisis hipertensi merupakan suatu
keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi yang kemungkinan
dapat menimbulkan atau telah terjadinya kelainan organ target (American
Diabetes Association, 2003).
E. PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol
kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor pada medula
di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis yang berlanjut
ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia
simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis
ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin
yang akan merangsang serabut saraf pascaganglion ke pembuluh darah, dimana
dengan dilepaskannya norpinefrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah
(Brunner, 2002).
Perubahaan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam
relaksasi otot polos pembuluh darah yang menyebabkan penurunan distensi dan
daya regang pembuluh darah.
Akibat hal tersebut, aorta dan arteri
besar mengalami penurunan kemampuan dalam mengakomodasi volume darah yang
dipompa oleh jantung (volume sekuncup) sehingga mengakibatkan penurunan curah
jantung dan peningkatan tahanan perifer (Corwin, 2005).
F. MANIFESTASI KLINIS
Menurut ( Aziza, Lucky, 2007) Tanda dan gelala hipertensi yaitu ;
1. Sakit kepala
2. Epitaksis
3. Rasa berat di tengkuk
4. Mata berkunang – kunang
5. Mual, muntah
6. Kelemahan / letih
7. Sesak nafas
8. Kenaikan tekanan darah dari normal
9. Penurunan kekuatan genggaman tangan
10.
Pandangan
mata kabur/tidak jelas.
G. KOMPLIKASI
Menurut Elisabeth J Corwin komplikasi
hipertensi terdiri dari stroke, infark miokard, gagal ginjal, ensefalopati
(kerusakan otak) dan pregnancy- included hypertension (PIH) (Corwin,
2005).
1. Stroke
Stroke
dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi diotak atau akibat embolus yang
terlepas dari pembuluh otak yang terpajan tekanan tinggi.
Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila
arteri-arteri yang memperdarahi
otak mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahi
berkurang. (Corwin, 2005).
2.
Infark Miokardium
Infark
miokard dapat
terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerotik, tidak dapat mensuplai
cukup oksigen ke miokardium, atau apabila terbentuk trombus yang menyumbat
aliran darah melalui pembuluh tersebut.
Akibat hipertensi kronik dan
hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat
dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.
Demikian juga, hipertrofi dapat
menimbulkan perubahaan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel
sehingga terjadi distritmia, hipoksia jantung dan peningkatan risiko pembentukan
bekuan (Corwin, 2005).
3.
Gagal Ginjal
Menurut Arief mansjoer (2001)
hipertensi berisiko 4 kali lebih besar terhadap kejadian gagal ginjal bila dibandingkan dengan
orang yang tidak mengalami hipertensi.
Mekanisme terjadinya hipertensi pada
gagal ginjal kronik
oleh karena penimbunan garam dan air atau sistem renin angiotensin aldosteron (RAA) (Chung, 1995).
4. Ensefalopati (Kerusakan otak)
Ensefalopati (Kerusakan otak) dapat
terjadi terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan
yang sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler
dan mendorong ke dalam ruang intersitium diseluruh susunan saraf pusat.
Neuron-neuron disekitarnya kolaps yang
dapat menyebabkan ketulian, kebutaan dan tak jarang juga koma serta kematian
mendadak. (Corwin, 2005).
H. PENATALAKSANAAN
1. Pengendalian faktor risiko
a. Mengatasi
obesitas/ menurunkan kelebihan berat badan
Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan sesorang yang badannya normal.
Sedangkan, pada penderita
hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih (overweight).
Dengan demikian, obesitas harus dikendalikan dengan menurunkan berat badan
(Depkes, 2006).
b. Mengurangi
asupan garam didalam tubuh
Pengurangan asupan garam
secara drastis akan sulit dirasakan. Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram (1
sendok teh) per hari pada saat memasak (Depkes, 2006).
c.
Ciptakan keadaan rileks
d. Berbagai cara relaksasi seperti
meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akan menurunkan
tekanan darah (Depkes, 2006).
e. Melakukan
olahraga teratur
Berolahraga seperti senam
aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu,
diharapkan dapat menambah kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang
akhirnya mengontrol tekanan darah (Depkes, 2006).
Menurut WHO, dari 50%
penderita hipertensi yang diketahui, 25% mendapat pengobatan dan hanya 12,5%
yang diobati dengan baik. Pengobatan penderita hipertensi belum efektif karena
sering terjadi kekambuhan serta menimbulkan efek samping berbahaya dalam jangka
waktu yang panjang (Dicky, 2011).
Hal ini yang mendorong para ilmuwan
untuk mengembangkan terapi non farmakologis. Terapi komplementer
nonfarmakologis yang dilakukan adalah :
1.
Terapi Relaksasi
Terapi relaksasi ditujukan untuk menangani faktor psikologis dan stress
yang dapat menyebabkan hipertensi. Hormon epineprin dan kortisol yang
dilepaskan saat stress menyebabkan peningkatan tekanan darah dengan menyempitkan
pembuluh darah dan meningkatkan denyut jantung.
Besarnya peningkatan tekanan darah tergantung pada beratnya stress dan
sejauh mana kita dapat mengatasinya. Penanganan stress yang adekuat dapat
berpengaruh baik terhadap penurunan tekanan darah.
Hasil relaksasi yang optimal
melalui penurunan gelombang otak dari gelombang beta ke gelombang alpha.
Pernapasan dengan irama yang teratur akan menenangkan gelombang otak serta
merelaksasikan seluruh otot dan jaringan tubuh.
Langkah-langkah melakukan relaksasi
dengan mendengarkan musik :
1. Siapkan musik klasik
2. Duduk di kursi dengan tenang dan
santai, posisi tulang punggung tegak
lurus.
3. Pusatkan pikiran
4. Bernapaslah secara alamiah, secara
wajar
5. Tarik nafas perlahan melalui hidung
dan hembuskan melalui mulut
6. Lakukan berulang-ulang selama 10 -
15 menit.
Relaksasi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan teknik pernapasan
yang ritmis dan alami. Di dalam relaksasi harus melakukan pernapasan yang
ritmis agar dapat mencapai
2. Teknik Massase
Menurut (Wijanarko.et.al, 2010),
teknik masase yang digunakan yaitu:
a. Effleurage
(Menggosok), caranya jari-jari tangan rapat mencakup otot, gosokan menuju
arah jantung dan dilakukan secara berirama dan kontinyu. Teknik masase ini
digunakan sebagai manipulasi pembuka dan penutup.
b. Petrissage
(Memijat), caranya kedua tangan memijat dengan gerakan bergelombang,
berirama, tidak terputus-putus.
c. Vibration
(Menggetarkan), caranya dengan sikap membengkok siku, jari-jari ditekankan
pada tempat yang dikehendaki, kemudian kejangkan seluruh lengan tersebut.
Kontraindikasi masase kaki adalah masase tidak dapat dilakukan pada seseorang
yang mengalami phlebitis, trombosis, reaksi imflamasi, selulitis, gangguan
perdarahan serta yang memiliki luka terbuka atau kerusakan pada kaki (Turner
& Merriman, 2005 dikutip Ramadhani, 2011). Getaran ini dapat diberikan
melalui ujung jari, dua jari atau tiga jari yang dirapatkan.
3. Pengobatan Tradisional Hipertensi
a. Mentimun
Dua buah timun dimakan pagi dan sore atau
diparut,diperas,diambil airnya diminum pagi dan sore.
b. Belimbing
manis
Beberapa
buah belimbing muda diparut lalu diminum air perasannya. Lakukan 2x sehari.
1) Segenggam
daun belimbing manis dicuci bersih, ditumbuk, diperas, dan diambil airnya
sebanyak 1 sendok makan
2) Campurkan
air perasan tersebut dengan 1 sendok makan air jeruk nipis dan ½ sendok makan
madu.
3) Lakukan
2x sehari
c. Belimbing
wuluh
Rebus
tiga buah belimbing wuluh yang diiri-iris dengan tiga gelas air sampai tinggal setengah. Saring lalu minum 1x pada pagi hari.
1) 3
buah belimbing wuluh diparut lalu diperas airnya. Diminum 1x sehari.
d. Daun
alpukat
Sepuluh lembar daun alpukat direbus dalam
2 gelas air sampai airnya tinggal 1 gelas.
e. Pegagan
20 helai daun pegagan segar, rebus dengan
2 gelas air sampai menjadi ¾ gelas. Saring. Minum 3x ¾ gelas.
f. Pepaya
Parut sebuah pepaya muda, peras. Airnya
diminum 2x sehari. Ulangi selama 3 hari.
g. Seledri
20 tangkai seledri dicuci,dilumatkan. Beri
sedikit air masak. Peras. Minum airnya dua sendok makan 3x sehari. Lakukan
dengan teratur selama 3 hari.
1)
15 batang seledri dicuci, direbus dengan 2
gelas air sampai tinggal ¾ nya. Hasil rebusan ini diminum separuh pagi dan
separuh malam.
h. Mengkudu
2 buah mengkudu dibuang bijinya, diparut.
Sebuah mentimun diparut dan diperas. Tuangkan air mentimun ke ramuan mengkudu,
beri gula aren dan 2 gelas air panas,. Saring. Ramuan ini untuk diminum 3x
sehari.
i. Bawang
putih
2-3 siung bawang putih dikupas, dicuci,
dikunyah, lalu ditelan sambil minum air hangat. Lakukan 3x sehari. Bawang putih
dibakar sampai matang, dimakan. 2 hari pertama makan 6 siung, selanjutnya
selama seminggu makan 2 siung.
j. Daun
salam
Sepuluh lembar daun salam direbus dalam 2
gelas air sampai rebusannya tinggal 1 gelas, diminum pagi dan sore hari
2. Aneka jus untuk hipertensi
a. Jus
belimbing berembun
Bahan:
0) 100
gr byah belimbing manis,dipotong-potong.
1) 3
sendok makan air jeruk nipis
2) Setengah
gelas air matang
3) ¾
gelas es serut halus
Cara membuat: campur semua bahan,lalu
blender. Hidangkan segera saat masih dingin (untuk satu gelas)
b. Jus
belimbing wuluh seledri
Bahan:
0) 100
gr belimbing wuluh
1) 100
gr seledri batang besar
2) ½
gelas air matang
3) ½
gelas es serut
Cara membuat: blender
belimbing wuluh, seledri batang besar, air dan es serut. Hidangkan dengan es
(untuk 1 gelas).
I.
ASUHAN
KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Aktifitas/
istirahat
Gejala: Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
Tanda: Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung
b. Sirkulasi
Gejala: Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner.
Tanda: Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disarythmia.
c.
Integritas Ego
Gejala: Ancietas, depresi, marah kronik, faktor-faktor
stress.
Tanda: Letupan suasana hati, gelisah, otot mulai tegang.
d. Eliminasi
e. Riwayat
penyakit ginjal, obstruksi.
f.
Makanan/ cairan
Gejala: Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak,
tinggi kolesterol), mual, muntah, perubahan berat badan (naik/ turun), riwayat
penggunaan diuretik.
Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.
g. Neurosensori
Gejala: Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub
oksipital, gangguan penglihatan.
Tanda: Status mental: orientasi, isi bicara, proses
berpikir,memori, perubahan retina optik.
h. Respon
motorik: penurunan kekuatan genggaman tangan.
i.
Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri
abdomen/ massa.
j.
Pernafasan
Gejala: Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja,
tacyhpnea, batuk dengan/ tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda: Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/
penggunaan alat bantu pernafasan.
k.
Keamanan
Gejala: Gangguan koordinasi, cara brejalan.
l.
Pemeriksaan
Diagnostik
1) Hb:
untuk mengkaji anemia, jumlah sel-sel terhadap volume cairan (viskositas).
2) BUN:
memberi informasi tentang fungsi ginjal.
3) Glukosa:
mengkaji hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin
(meningkatkan hipertensi).
4) Kalsium
serum
5) Kalium
serum
6) Kolesterol
dan trygliserid
7) Px
tyroid
8) Urin
analisa
9) Foto
dada
10) CT
Scan
11) EKG
2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
a. Nyeri
(akut), sakit kepala b/d peningkatan
tekanan vaskuler serebral.
Hasil yang diharapkan: melapor nyeri/
ketidaknyamanan berkurang.
Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring selama fase
akut.
R/ Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi
2) Beri tindakan non farmakologik untuk
menghilangkan nyeri seperti pijat punggung, leher, tenang, tehnik relaksasi.
R/ Tindakan yang menurunkan tekanan
vaskuler serebral, efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
3) Meminimalkan aktifitas vasokonstriksi
yang dapat meningkatkan nyeri kepala,misal: membungkuk, mengejan saat buang air
besar.
R/ Aktifitas yang meningkatkan vasokontraksi
menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan vaskuler serebral.
4) Kolaborasi dalam pemberian
analgetika, anti ancietas.
R/ Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan
rangsangan saraf simpatis.
b. Intoleran
aktivitas b/d kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan/
kriteria :
1) Berpartisipasi dalam aktifitas yang
diinginkan/ diperlukan.
2) Melaporkan peningkatan dalam
toleransi aktifitas yang dapat diukur.
3) Menunjukkan penurunan dalam
tanda-tanda intoleransi fisiologi.
Intervensi :
1) Kaji toleransi
pasien terhadap aktivitas dengan menggunakan parameter.
R/ Parameter
menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress, aktivitas dan indikator
derajat pengaruh kelebihan kerja jantung.
2) Instruksikan tentang tehnik
menghemat tenaga, misal: menggunakan kursi saat mandi, sisir rambut.
3) Melakukan aktifitas dengan
perlahan-lahan.
R/ Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk
memajukan tingkat aktivitas individual.
4) Beri dorongan untuk melakukan
aktifitas/ perawatan diri secara bertahap jika dapat ditoleransi.
R/ Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai
aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas
bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung.
5) Beri bantuan sesuai dengan kebutuhan
R/ Teknik
penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu
keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
c. Resiko tinggi penurunan curah jantung b/d
vasokontriksi pembuluh darah.
Tujuan dan Kriteria :
1) Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan
darah/beban kerja jantung
2) Mempertahankan
TD dalam rentang individu yang dapat diterima
3) Memperlihatkan
norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.
Intervensi :
1) Observasi
tekanan darah
R/ Perbandingan dari tekanan darah memberikan gambaran
yang lebih lengkap tentang keterlibatan vaskuler.
2) Catat
keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
R/ Denyutan karotis, jugularis, radialis dan femoralis
mungkin teramati saat palpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun,
mencerminkan efek dari vasokontriksi dan kongesti vena.
3) Auskultasi
tonus jantung dan bunyi napas.
R/ S4 umum
terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium,
perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya
krakels, mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya
atau gagal jantung kronik.
4) Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.
R/ Adanya pucat, dingin, kulit
lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminkan dekompensasi/penurunan
curah jantung.
5) Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas atau keributan
ligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.
R/ Membantu
untuk menurunkan rangsangan simpatis, meningkatkan relaksasi.
6) Anjurkan
teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi.
R/ Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan
stress, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah.
7) Kolaborasi
dengan dokter dalam pembrian terapi anti hipertensi dan diuretik.
R/ Menurunkan tekanan darah.
d. Resiko
tinggi terhadap cedera
yang b/d defisit
lapang pandang, motorik atau persepsi.
Kriteria
hasil :
1) Mengidentifikasi faktor yang
meningkatkan resiko terhadap cedera.
2) Memperagakan tindakan keamanan untuk
mencegah cedera.
3) Meminta bantuan bila diperlukan.
Intervensi :
1)
Lakukan tindakan untuk mengurangi bahaya lingkungan.
R/ Membantu menurunkan cedera.
2) Bila penurunan sensitifitas taktil
menjadi masalah ajarkan klien untuk melakukan:
a) Kaji suhu air mandi dan bantalan
pemanas sebelum digunakan.
b) Kaji ekstremitas setiap hari
terhadap cedera yang tak terdeteksi.
3) Pertahankan kaki tetap hangat dan
kering serta kulit dilemaskan dengan lotion emoltion.
R/ Kerusakan sensori pasca CVA dapat mempengaruhi
persepsi klien terhadap suhu.
4)
Lakukan
tindakan untuk mengurangi resiko yang berkenaan dengan penggunaan alat bantu.
R/ Penggunaan alat bantu yang tidak
tepat atau tidak pas dapat menyebabkan regangan atau jatuh.
5)
Anjurkan
klien dan keluarga untuk memaksimalkan keamanan di rumah.
R/ Keamanan yang baik meminimalkan
terjadinya cedera.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3I. Jakarta: Medica Ausculpalus
FKUI.
Anderson. 2006. Patofisiologi
Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta: EGC.
Aziza, Lucky. 2007. Hipertensi
The Silent Killer. Jakarta: Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia.
Brunner & Suddarth. 2002. Kep.
Medikal Bedah Vol 2, EGC. Jakarta.
Doenges, Maryllin E. 2003. Rencana
Asuhan Keperawatan Edisi 3. Alih Bahasa: Yasmin Asih. Jakarta: EGC.
Kowalski, Robert. 2010.
Terapi Hipertensi: Program 8 minggu Menurunkan Tekanan Darah Tinggi. Alih
Bahasa: Rani Ekawati. Bandung: Qanita Mizan Pustaka.
Sudjaswadi,Wiryowidagdo, M.Sitanggang. 2002. Tanaman Obat untuk Penyakit Jantung, Darah
Tinggi, dan Kolesterol. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Smeltzer & Bare, (2002) Keperawatan
Medikal Bedah. EGC. Jakarta.
Smeltzer dan Bare. 2002. Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa Yasmin Asih. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Suryohidoyo, Purnomo, (2007). Kapita
Selekta Ilmu Kedokteran Mulekular .PuriDelco. Bandung.
Udjianti, Wajan. 2011. Keperawatan
Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.
![]() |
Patofisiologi terjadinya |
Hai mbaa.. sudah saya follow ya ignya.. seperti request mba ^^
BalasHapusOh ya, klo hipertensi ini aku pas lagi hamil ngalamin.. padahal seringnya darah rendah...
Iya, terima kasih ya mbak! Kalau hipertensinya saat hamil, itu memang ada dia mbak, biasanya karena perubahan fisiologi tubuh lantaran hamil, makannya meningkatkan tekanan darah. Perlu dikontrol juga mbak, supaya tidak berisiko saat melahirkan.
HapusTerimakasih atas informasinya, ini sangat membantu
BalasHapuswihh nice info
BalasHapuskunjung balik, di web kami banyak penawaran dan tips tentang kesehatan
Ada artikel menarik tentang obat tradisional yang mampu menyembuhkan penyakit berat, cek yuk
Obat tradisional Hipertensi