![]() |
Ilustrasi : Peradangan pada sendi |
A. Definisi
Gout bisa diartikan sebagai
sebuah penyakit, karena terjadinya penumpukan asam urat dalam tubuh secara
berlebihan, baik akibat produksi yang meningkat, pembuangan yang menurun, atau
akibat peningkatan asupan makanan kaya purin (Naga 2012, hal 112).
Gout athritis yang biasa
disebut sebagai penyakit asam urat merupakan penyakit yang diakibatkan oleh penumpukan kristal-kristal asam urat, pada
persendian yang berasal dari kelebihan kadar asam urat di dalam darah.
Penyakit
Gout Athritis di Indonesia mendudki urutan kedua terbanyak setelah penyakit
osteoartritis (OA), yang biasa dikenal dengan penyakit perkapuran sendi.
Pengidap terbanyak penyakit ini adalah laki-laki usia pertengahan antara 40-50
tahun. Sedangkan kadar asam urat
perempuan umumna tetap rendah, dan baru meningkat setelah menopouse.
Penyakit ini sangat erat
kaitannya dengan tingginya kadar asam urat di dalam darah. Umumnya kadar asam
urat normal pada laki-laki ialah 3,5 – 7 mg/dl, dan perempuan 2,6 – 6 mg/dl.
Namun karena adanya peningkatan asam urat di dalam darah, maka saat dilakukan
pemeriksaan, pasien yang menderita asam urat melebihi angka normal tersebut.
B. Etiologi
Menurut Mansjoer (2012),
Gejala artritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap
pembentukan kristal monosodium urat monohidrat, karena itu dilihat dari
penyebabnya, penyakit ini termasuk dalam golongan metabolik.
Kelainan ini berhubungan
dengan gangguan kinetik asam urat hiperurisemia. Hiperuresemia pada penyakit
ini terjadi karena :
1. Pembentukan
asam urat yang berlebihan
a. Gout
primer metabolik, disebakan sintesis langsung yang bertambah
b. Gout
sekunder metabolik, disebabkan pembentukan asam urat berlebihan karena penyakit
lain seperti leukimia.
2. Kurangnya
pengeluaran asam urat melalui ginjal
a. Gout
primer renal, terjadi karena gangguan ekskresi asam urat ditubuh distal yang
sehat, penyebab ini tidak diketahui.
b. Gout
sekunder renal, disebabkan oleh kerusakan ginjal, misalnya pada
gromerulonefritis
c. Perombakan
dalam usus yang berkurang. Namun, secara klinis hal ini tidak penting.
Sedangkan
menurut Sustrani (2005), faktor yang berpengaruh sebagai penyebab asam urat
adalah:
1. Faktor
keturunan
2. Diet
tinggi protein dan makanan kaya senyawa purin lainnya seperti daging, makanan
laut, kacang-kacangan, bayam, jamur dan kembang kol
3. Akibat
konsumsi alkohol berlebihan
4. Hambatan
dari pembuangan asam urat karena penyakit tertentu, terutama gangguan ginjal
5. Penggunaan
obat tertentu yang meningkatkan kadar asam urat, terutama diuretika ( furosemida dan hidroklorotiazida )
6. Penggunaan
antibiotika berlebihan
7. Penyakit
tertentu pada darah seperti leukimia dan polisitomia
8. Faktor
lain seperti stres, diet ketat, cidera sendi, darah tinggi dan olah raga
berlebihan
C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang
ditimbulkan pada penyakit asam urat antara lain adalah sebagai berikut:
1. Nyeri
hebat pada malam hari, sehingga penderita sering terbangun saat tidur.
2. Saat
dalam kondisi akut, sendi tampak terlihat bengkak, merah dan teraba panas.
Keadaan akut biasanya berlangsung 3 hingga 10 hari, dilanjutkan dengan periode
tenang. Keadaan akut dan masa tenang dapat terjadi berulang kali dan makin lama
makin berat. Dan bila berlanjut akan mengenai beberapa sendi dan jaringan bukan
sendi.
3. Disertai
pembentukan kristal natrium urat yang dinamakan thopi.
4. Terjadi
deformitas (kerusakan) sendi secara kronis.
Berdasarkan diagnosis dari American Rheumatism Association (ARA),
seseorang dikatakan menderita asam urat jika memenuhi beberapa kriteria
berikut:
1. Terdapat kristal MSO (monosodium urat)
di dalam cairan sendi.
2. Terdapat kristal MSO (monosodium urat)
di dalam thopi, di tentukan berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik
dengan sinar terpolarisasi.
3. Di dapatkan 6 dari 12 kriteria di
bawah ini :
a. Terjadi serangan arthritis akut lebih
dari satu kali.
b. Terjadi peradangan secara maksimal
pada hari pertama gejala atau serangan datang.
c. Merupakan arthritis monoartikuler
(hanya terjadi di satu sisi persendian).
d. Sendi yang terserang berwarna
kemerahan.
e. Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu
jari kaki) terasa sakit atau membengkak.
f. Serangan nyeri unilateral (di salah
satu sisi) pada sendi metatarsophalangeal.
g. Serangan nyeri unilateral pada sendi
tarsal (jari kaki).
h. Adanya topus (Deposit besar dan tidak
teratur yang berasal dari natrium urat) di kartilago artikular (tulang rawan
sendi) dan kapsula sendi.
i. Terjadinya peningkatan kadar asam urat
dalam darah (lebih dari 7mg/dL).
j. Pada gambaran radiologis tampak
pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja).
k. Pada gambaran radiologis tampak kista
subkortikal tanpa erosi.
l. Hasil kultur cairan sendi menunjukkan
nilai negative. Bengkak, kemerahan, panas dan rasa nyeri yang hebat pada sendi metatarsofalangeal
ibu jari kaki (podagra) adalah tanda khas gout.
D. Patofisologi
Peningkatan kadar asam urat
di dalam darah dapat disebabkan oleh pembentukan berlebihan atau penurunan
eksresi asam urat, ataupun keduanya.
Asam urat adalah produk
akhir metabolisme purin. Secara normal metabolisme purin menjadi asam urat
dapat diterangkan sebagai berikut:
Sintesis purin melibatkan
dua jalur yaitu jalur de novo dan
jalur penghematan (salvage pathway).
1. Jalur
de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor
nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5 fosfat yang diubah melalui
serangkaian zat antara menjadi nukleotida pirin (asam inosinat, asam guanilat,
asam adenilat).
Jalur ini dikendalikan oleh
serangkaian mekanisme kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat
reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan
amidofosforibosiltranfarase (amido-PRT).
2. Jalur
penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa purin
bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jakur ini melalui
zat-zat perantara seperti jalur de novo.
Basa purin bebas (adenin,
guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentuk prekursor
nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim :
hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenin
fosforibosiltransfferase (APRT).
Asam urat terbentuk dari
hasil metabolisme purin akan difiltrasi secara bebas oleh glomerulus dan
diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam urat yang
diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal, dan dikeluarkan melalui
urin.
E. Diagnosis Medik
Diagnosa asam urat dilakukan
dengan pemeriksaan lewat laboratorium, pemeriksaan radiologis, dan cairan
sendi. Selain itu, kita juga bisa melakukan diagnosa melakukan diagnosa melalui
roentgen.
1. Pemeriksaan
Laboratorium
Seseorang dikatakan
menderita asam urat ialah apabila pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar
asam urat dalam darah diatas 6 mg/dL untuk pria dan lebih dari 5,5 mg/dL untuk
wanita.
Bukti adanya kristal urat
dari cairan sinovial atau dari topus melalui mikroskop polarisasi sudah
membuktikan, bagaimanapun juga pembentukan topus hanya setengah dari semua
pasien dengan gout.
Ureum dan kreatinin
diperiksa untuk mengetahui normal dan tidaknya fungsi ginjal.
Sementara itu pemeriksaan
profil lemak darah dijadikan penanda ada dan tidaknya gejala aterosklerosis.
2. Pemeriksaan
Cairan Sendi
Pemeriksaan cairan sendi
dilakukan di bawah mikroskop. Tujuannya ialah untuk melihat kristal urat atau
monosodium urate (kristal MSU) dalam cairan sendi.
Untuk melihat perbedaan
jenis arthritis yang terjadi perlu dilakukan kultur cairan sendi. Dengan mengeluarkan
cairan sendi yang meradang maka pasien akan merasakan nyeri sendi yang
berkurang.
Dengan memasukkan obat ke
dalam sendi, selain menyedot cairan sendi tentunya, maka pasien akan lebih
cepat sembuh.
3. Pemeriksaan
dengan Roentgen
Pemeriksaan roentgen perlu
dilakukanuntuk melihat kelainan baik pada sendi maupun pada tulang dan jaringan
di sekitar sendi.
F. Penatalksanaan
1. Kolkisin adalah suatu agen anti radang yang biasanya dipakai untuk
mengobati serangan gout akut, dan untuk mencegah serangan gout Akut di kemudian
hari. Obat ini juga dapat digunakan sebagai sarana diagnosis.
2. Pengobatan serangan akut biasanya tablet 0,5 mg setiap jam, sampai
gejala-gejala serangan Akut dapat dikurangi atau kalau ternyata ada bukti
timbulnya efek samping gastrointestinal. Dosis maksimurn adalah 4-8 rng,
tergantung dari berat pasien bersangkutan.
3. Efek samping :Beberapa pasien mengalami rasa mual yang hebat, muntah-muntah
dan diarhea, dan pada keadaan ini pemberian obat harus dihentikan.
4. Gejala-gejala pada sebagian besar pasien berkurang dalam waktu 10-24 jam
sesudah pemberian obat. Kolkisin dengan dosis 0,5-2 mg per hari ternyata cukup
efektif untuk mencegah serangan gout berikutnya secara sempurna atau mendekati
sempurna.
5. Penggunaan kolkisin setiap hari cenderung memperingan episode gout
berikutnya, kalau memang serangan gout terjadi lagi. Penggunaan kolkisin jangka
panjang tak memperlihatkan efek samping yang berat.
6. Fenilbutazon, suatu agen anti radang, dapat juga digunakan unluk mengobati
artritis gout akut. Tetapi, karena fenilbutazon menimbulkan efek samping, maka
kolkisin digunakan sebagai terapi pencegahan. Indometasin juga cukup efektif.
7. Terdapat tiga obat lain yang berguna untuk terapi penunjang atau terapi
pencegahan.
a.
Alopurinol dapat mengurangi pembentukan
asam urat. Dosis 100-400 mg per hari dapat menurunkan kadar asam urat serum.
b.
Probenesid dan Sulfinpirazin merupakan
agen urikosurik, artinya mereka dapat menghambat proses reabsorpsi urat oleh
tubulus ginjal dan dengan dernikian meningkatkan ekskresi asam urat.
8. Hindari makanan yang mengandung kadar purin yang tinggi. Di antara jenis
makanan ini termasuk jerohan seperti hati, ginjal, roti manis dan otak. Sardin
dan anchovy (ikan kecfi semacarn haring) sebaiknya dibatasi.
9. Untuk membuang tofi yang besar, terutama kalau tofi mengganggu gerakan
sendi, maka dilakukan pembedahan.
G. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan
tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan. Untuk itu, diperlukan
kecermatan dan ketelitian dalam menangani masalah klien sehingga dapat memberi
arah terhadap
a. Anamnesis dilakukan untuk mengetahui: Identitas meliputi nama, jenis kelamin, usia,
alamat, agama, bahasa yang digunakan, status perkawainan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan
darah, nomor register, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnosis
medis.
Pada umunya keluhan
utama artritis reumatoid adalah nyeri pada daerah sendi yang mengalami
masalah.Untuk mempperoleh pengkajian yang lengkap tentang nyeri klien, perawat
dapat menggunakan metode PQRST.
1) Provoking incident : Hal yang menjadi
faktor presipitasi nyeri adalah peradangan.
2) Quality Of Painn: Nyeri yang dirasakan atau digambarkan
klien bersifat menusuk.
3) Region,Radition,Relief : Nyeri dapat menjalar atau menyebar ,
dan nyeri terjadi di sendi yang mengalami masalah.
4) Severity(scale) Of Pain: Nyeri yang dirasakan ada diantara 1-3
pada rentang skala pengukuran 0-4.
5) Time : Berapa lama nyeri
berlangsung,kapan,apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
b. Riwayat penyakit sekarang
Pengumpulan data
dilakukan sejak muncul keluhan dan secara umum, mencakup awitan gejala, dan
bagaimana gejala tersebut berkembang. Penting di tanyakan berapa lama pemakaian
obat analgesic, alopurinol.
c. Riwayat penyakit dahulu
Pada pengkajian ini, ditemukan
kemungkinan penyebab yang mendukung terjadinya gout. Masalah lain yang perlu
ditanyakan adalah adakah klien pernah dirawat dengan masalah yang sama. Kaji
adanya pemakaian alcohol yang berlebihan dan penggunaan obat diuretic.
d. Riwayat penyakit keluarga
Kaji adakah keluarga
dari genarasi terdahulu mempunyai keluhan yang sama dengan klien karena
penyakit gout berhubungan dengan genetik. Ada produksi/sekresi asam urat yang
berlebihan yang tidak di ketahui penyebabnya.
e. Riwayat psikososial
Kaji respon
emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan penyakit klien
dalam keluarga dan masyarakat. Respon yang di dapat meliputi adanya kecemasan
individu dengan rentang variasi tingkat kecemasan yang berbeda dan berhubungan
erat dengan adanya sensasi nyeri, hambatan mobilitas fisik akibat respon nyeri,
dan ketidaktahuan akan program pengobatan dan prognosis
penyakit serta peningkatan asam urat terhadap sirkulasi.
Adanya perubahan peran
dalanm keluarga akibat adanya nyri dan hambatan mobilitas fisik memberikan
respon terhadap konsep diri yang maldaptif.
f. Pengkajian Berdasarkan Pola
1) Pola Presepsi dan pemeliharaan kesehatan
a) Keluhan utama nyeri pada pada sendi
b) Pencegahan penyerangan dan bagaimana cara mengatasi atau mengurangi
serangan.
c) Riwayat penyakit Gout pada keluarga
d) Obat utntuk mengatasi adanya gejala
2) Pola nutrisi dan metabolic
a) Peningkatan berat badan
b) Peningkatan suhu tubuh
c) Diet
3) Pola aktifitas dan Latihan
a) Respon sentuhan pada sendi dan menjaga sendi yang terkena
4) Pola presepsi dan konsep diri
a) Rasa cemas dan takut untuk melakukan pergerakan
b) Presepsi diri dalam melakukan mobilitas
g. Pemeriksaaan fisik
1) B1 (Breathing)
a) Inspeksi: bila tidak melibatkan sistem pernapasan,biasanya ditemukan
kesimetrisan rongga dada, klien tidak sesak napas, tidak ada penggunaan otot
bantu pernapasan.
b) Palpasi: taktil fremitus seimbang kiri dan kanan
c) Perkusi : Suara resona pada seluruh lapang paru
d) Auskultasi : suara napas hilang/melemah pada sisi yang sakit, biasanya di
dapat suara ronki atau mengi.
2) B2 (Blood): pengisian kapiler kurang dari 1 detik,sering ditemukan keringat
dingin,dan pusing karena nyeri.
3) B3 (Brain): kesadaran biasanya kompos mentis
a) Kepala dan
wajah :
ada sianosis
b) Mata :
sclera biasanya tidak ikterik
c) Leher :
biasanya JVP dalam batas normal
4) B4 (Blader) : produksi urin biasanya dalam batas normal dan tidak ada
keluhan pada sistem perkemihan, kecuali penyakit gout sudah mengalami
komplikasi ke gijal berupa pielonefritis, batu asam urat, dan GGK yang akan
menimbulka perubahan fungsi pada sistem ini.
5) B5 (bawel) : kebutuhan eliminasi pada kasus gout tidak ada gangguan, tetapi
perlu dikaji frekuensi, konsistensi,warna, serta nbau feses. Selain itu perlu
di kaji frekiensi, konstitensi, warna, bau, dan jumlah urine. Klien biasanya
mual, mengalami nyeri lambung,dan tidak ada nafsu makan, terutama klien yang
memakai obat analgesik dan anti hiperurisemia.
6) B6 (Bone) : pada pengkajian ini ditemukan
a) Look: keluhan nyeri sendi uyang merupakan keluhan utama yang mendorong
klien mencari pertolongan (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah
bentuknya).
b) Feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak
c) Move: hambatan gerahan sendi biasanya semakin memberat
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen-agen penyebab cedera.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi dan kontraktur.
c. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan informasi.
3. Perencanaan
No
|
Diagnosa
|
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
1.
|
Nyeri akut berhubungan dengan
agen-agen penyebab cedera
|
Pasien mampu menjelaskan kadar dan karakteristik nyeri
|
1. Kaji nyeri pasien menggunakan
metode PQRST.
R/ Memberikan informasi sebagai dasar
dan pengawasan keefektifan intervensi.
2.
Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang nyaman.
R/ Untuk menurunkan ketegangan atau
spasme otot dan mendistribusikan kembali tekanan pada bagian tubuh.
3.
Lakukan tindakan kenyamanan untuk meningkatkan relaksasi, seperti
pemijatan, mengatur posisi, dan teknik relaksasi.
R/ Membantu pasien mwmfokuskan pada
subjek pengurangan nyeri.
4.
Cegah agar tidak terjadi iritasi pada tofi, misalnya menggunakan sepatu
yang sempit dan terantuk benda yang keras
R/ Bila terjadi iritasi maka akan
semakin nyeri.
5.
Berikan obat-obatan yang dianjurkan sesuai indikasi
R/ untuk mengurangi nyeri yang adekuat.
|
2.
|
Hambatan mobillitas fisik berhubungan dengan kaku sendi dan
kontraktur
|
Pasien mampu mempertahankan kekuatan otot dan ROM sendi
|
1.
Melakukan latihan ROM untuk sendi yang terkena gout jika memungkinkan
R/ Tindakan ini mencegah kontraktur sendi dan atrofi otot.
2.
Miringkan dan atur posisi pasien setiap 2 jam sekali pada pasien tirah
baring
R/ Tindakan ini mencegah kerusakan kulit
dengan mengurangi tekanan.
3.
Pantau kemajuan dan parkembangan kemampuan klien dalam melakukan
aktivitas
R/ untuk mandeteksi perkembangan klien.
4. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
untuk latihan fisik klien.
R/ kemampuan mobilisasi ekstremitas dapat ditingkatkan dengan latihan
fisik.
5.
Ajarkan pasien atau anggota keluarga tentang latihan ROM
R/ Untuk membantu persiapan pemulangan
pasien.
|
3.
|
Defisit pengetahuan berhubungan kurang pajanan informasi
|
Pasien mampu mengkomunikasikan apa yang dirasakan dan yang diajarkan.
|
1.
Kaji kemampuan pasien dalam mengungkapkan intruksi yang diberikan
R/ Mengetahui respond an kemampuan kognitif pasien dalam menerima
informasi.
2. Berikan jadwal obat yang di gunakan
meliputi nama obat, dosis, tujuan dan efek samping
R/ Tindakan ini dapat meningkatkan koordinasi dan kesadaran pasien
terhadap pengobatan yang teratur.
3. Berikan informasi mengenai alat-alat
bantu yang mungkin dibutuhkan
R/ mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu
untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan.
4. Jelaskan pada pasien menegenai
penyakit yang dialami.
R/ memberikan pengetahuan pasien sehingga dapat menghindari terjadinya
serangan berulang.
5. Dorong pemasukan diet rendah purin dan
cairan yang adekuat
R/ meningkatkan penyembuhan.
|
4. Evaluasi
a. Discharge Planning
Selama dirawat di
Rumah Sakit, pasien sudah dipersiapkan untuk perawatan dirumah. Beberapa
informasi penyuluhan pendidikan yang harus sudah dipersiapkan/diberikan pada
keluarga pasien ini adalah:
1) Pengertian dari penyakit Arthritis gout.
2) Penjelasan tentang penyebab penyakit.
3) Memanifestasi klinik yang dapat ditanggulangi/diketahui oleh keluarga.
4) Penjelasan tentang penatalaksanaan yang dapat keluarga lakukan.
5) Klien dan keluarga dapat pergi ke Rumah Sakit/Puskesmas terdekat apabila
ada gejala yang memberatkan penyakitnya.
6) Keluarga harus mendorong/memberikan dukungan pada pasien dalam menaati
program pemulihan kesehatan.
7) Anjurkan pasien untuk diet rendah purin.
Daftar Pustaka
Helmi, Zairin Helmi. 2011. Buku
Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Cetakan kedua.
Jakarta: Salemba Medika.
Kozier, dkk (2011). Buku
Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik edisi 7 volume 2. Jakarta: EGC.
McQueen, F.M.,
Reeves, Q., & Dalbeth, N. (201). New insights into an old disease: advanced
imaging in the diagnosis and management of gout. Postgrad Med J 2013;89:87–93.
doi:10.
Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah
Ortopedi. Edisi 3. Cetakan kelima.Jakarta : Yarsif Watampone.
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Volume 3.
Jakarta : EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih Telah Memberikan Komentarnya - Silahkan Komentar dibawah ini !!!!