Menulis Sebagai Bukti Perawat Itu Ada dan Hidup Selamanya

Post Top Ad

November 02, 2018

Pentingkah Stimulasi Tumbuh Kembang Anak?

by , in


Sahabat Perawat Traveler, pentingkah stimulasi tumbuh kembang anak itu? Toh, anak akan terus tumbuh dan berkembang seiring bertambahnya usia. 

Eits, jangan salah. Anak butuh stimulasi selama proses tumbuh kembangnya. Seperti halnya tanaman yang membutuhkan pupuk dan perawatan akan lebih tumbuh subur dibandingkan tanaman yang dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa diperdulikan. 

Begitu juga dengan anak yang distimulasi akan jauh lebih baik pertumbuhan dan perkembangnnya dibandingkan anak yang kurang mendaptkan stimulasi atau bahkan tidak sama sekali. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak, bahkan dapat mengakibatkan gangguan yang menetap sehingga susah untuk dikembalikan dalam keadaan semula. 

“Stimulasi merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak usia 0-6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal”. 
Orang tua sangat berperan untuk mengstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak
Stimulasi tumbuh kembang anak hendaknya dilakukan oleh ibu, ayah, dan orang terdekat anak. Kemampuan anak yang distimulasi berupa kemampuan gerak kasar, gerak halus, kemampuan bicara dan berbahasa, serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian. 

Prinsip Dasar Stimulasi 

Prinsip stimulasi ini didasari oleh beberapa hal berikut ini karena dilakukan oleh orang terdekat anak maka stimulasi hendaknya; 

1. Dilandasi rasa cinta dan kasih sayang. 

2. Memberikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur. 

3. Menggunakan alat bantu permainan yang sederhana, aman, dan mudah dimainkan anak. 

4. Memberikan reward atau pujian bila anak mampu melakukannya. 

Jenis Stimulasi Tumbuh Kembang Anak 

Beberapa stimulasi yang dianjurkan untuk meningkatkan kemampuan dasar anak yaitu; 

1. Stimulasi visual berfungsi untuk meningkatkan perhatian anak pada lingkungan sekitarnya melalui penglihatan. 

2. Stimulasi audiotori berfungsi untuk meningkatkan perkembangan bahasanya (verbal). 


3. Stimulasi taktil berfungsi untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak sehingga anak akan lebih responsif. 

4. Stimulasi kinetik berfungsi untuk mengenalkan anak terhadap lingkuangan sekitarnya. 

Apa Saja yang Perlu Distimulasi Sesuai dengan Usianya? 

1. Stimulasi pada bayi 0-3 bulan 



a. Kemampuan gerak kasar 

1) Mengangkat kepala. Letakkan bayi pada posisi telungkup, gerakkan sebuah mainan bewarna cerah atau buat suara-suara gembira di depan bayi sehingga ia akan belajar mengangkat kepalanya. Secara berangsur-angsur ia akan menggunakan kedua lengannya untuk mengangkat kepala dan dadanya. 

2) Berguling-guling. Letakkan mainan bewarna cerah di dekat bayi agar ia dapat melihat dan tertarik pada mainan tersebut. Kemudian pindahkan mainan tersebut ke sisi lain dengan perlahan. Awalnya bayi perlu dibantu dengan cara menyilangkan paha bayi agar badannya ikut begerak miring sehingga memudahkan bayi berguling. 

3) Menahan kepala tetap tegak. Gendong bayi dalam posisi tegak agar ia dapat belajar menahan kepalanya tetap tegak.

 

b. Kemampuan gerak halus 

1) Melihat, meraih dan menendang mainan gantung. Ikat sebuah tali menyilang di atas tempat tidur bayi. Gantungan pada tali tersebut benda/mainan berputar atau berbunyi, bewarna cerah sehingga bayi tertarik untuk melihatnya. Pastikan benda tersebut tidak bisa dimasukan ke mulut bayi, dan tali tidak akan terlepas dari ikatannya. 

2) Memperhatikan benda bergerak. Bayi sering memperhatikan wajah seseorang, gambar, benda atau mainan menarik bewarna cerah. Dekatkan wajah anda, gambar, mainan menarik kewajah bayi agar ia melihat dan memperhatikannya. Perlahan-lahan gerakan wajah anda atau benda-benda itu ke sisi kanan dan kiri sehingga bayi ikut memperhatikan. 

3) Melihat benda-benda kecil. Pangku bayi di dekat sebuah meja, kemudian jatuhkan sebuah benda kecil (miasal; kacang) dari atas meja, tepat di depan bayi. 

4) Memegang benda. Letakkan benda/mainan kecil yang berbunyi atau bewarna cerah di tangan bayi atau sentukan benda tersebut pada punggung jari-jarinya. Amati cara ia memegang benda tersebut. 

5) Meraba dan merasakan bentuk permukaan. Ajak bayi meraba dan merasakan berbagai bentuk permukaan seperti mainan binatang, mainan plastik, kain-kain perca, karet dan sebagainya. 


c. Kemampuan bicara dan bahasa 

1) Berbicara. Setiap hari berbicara dengan bayi sesering mungkin. Gunakan setiap kesempatan seperti waktu memandikan bayi, mengenakan pakaian, memberi makan, di tempat tidur, dan sebagainya. 

2) Meniru suara-suara. Tirukan ocehan bayi sesering mungkin, maka ia kan menirukan kembali suara anda. 

3) Mengenali berbagai suara. Ajak bayi mendengarkan berbagai suara seperti musik, radio, TV, orang berbicara dan sebagainya. Perhatikan bagaimana reaksi bayi terhadap suara yang berlainan. 



d. Kemampuan sosialisai dan kemandirian 

1) Member rasa aman dan kasih sayang. Sesering mungkin peluk dan belai bayi, bicara kepada bayi dengan nada lembut dan halus serta penuh kasih sayang. 

2) Mengajak bayi tersenyum. Sesering mungkin ajak bayi tersenyum dan tatap mata bayi. Balas tersenyum setiap kali bayi tersenyum kepada anda. 

3) Mengajak bayi mengamati benda-benda dan keadaan sekitarnya. Gendong bayi berkeliling sambil memperlihatkan benda-benda di sekelilingnya. 

4) Meniru ocehan dan mimik muka bayi. Perhatikan apa yang dilakukan oleh bayi, kemudian tirukan ocehan dan mimik mukanya. 

5) Mengayun bayi. Untuk menenangkan bayi dan anda bisa santai, ayunkan bayi dalam kursi ayun. Tetap berada di dekat bayi sehingga ia dapat meraba wajah anda dengan tangannya. 

6) Menina-bobokan. Ketika menidurkan bayi, bersenandunglah dengan nada lembut dan penuh kasih sayang, ayun bayi anda sampai tertidur.


Nah, itulah stimulasi tumbuh kembang yang bisa dilakukan kepada anak usia 0-3 bulan. Untuk stimulasi anak usia di atasnya, tunggu postingan Perawat Traveler berikutnya ya.  

September 26, 2018

Tujuh Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang Stunting

by , in
Sumber foto: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id
Istilah stunting masih terdengar awam bagi sebagian orang, padahal di Indonesia banyak anak lahir dalam keadaan stunting (kerdil). Anak yang terlahir stunting mengalami keterlambatan pertumbuhan yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan normal dan sehat sesuai usia anak. 

Stunting adalah status gizi yang didasarkan pada indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U). Stunting mengacu pada istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). 

Beradasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, ada sekitar 8,9 juta dari 25 juta balita di Indonesia mengalami stunting. Artinya 1 dari 3 balita (37,2%) di Indonesia mengalami stunting. Sedangkan berdasarkan Pantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017, prevalensi balita stunting sebanyak 29,6% dengan kategori balita pendek 19,8% dan sangat pendek 9,8%. 

Tingginya angka kasus stunting di Indonesia mengakibatkan badan kesehatan dunia atau Word Health Organization (WHO) menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk. Lantas apa hubungannya stunting dengan gizi buruk? 

Berikut tujuh hal yang harus kamu tahu tentang stunting. 

1. Gizi buruk faktor utama penyebab stunting 

Stunting terjadi akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama sehingga asupan nutrisi yang diterima anak tidak mencukupi. Kekurangan gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan kerusakan otak yang sulit untuk diperbaiki. 


Padahal pada dua tahun pertama inilah neuron dan sel saraf otak anak terbentuk. Namun, karena kurangnya asupan gizi sel saraf pun susah terbentuk sehingga proses perkembangan otak anak terhambat yang berpengaruh pada kecerdasan di masa depan. 

Kondisi ini tidak bisa ditangani bila anak sudah memasuki usia dua tahun. Oleh karena itu status gizi anak selama dua tahun kehidupan atau yang disebut golden age harus diperhatikan dan dipenuhi kebutuhan nutrisinya. 

2. Kemiskinan pemicu lahirnya anak stunting 

Gizi buruk erat kaitannya dengan kemiskinan karena penghasilan yang rendah dari orang tua bayi. Mereka tidak mampu membeli makanan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ibu semasa kehamilan dan saat bayinya dilahirkan. Akibatnya anak akan mengalami gizi buruk yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya di masa dua tahun setelah kelahiran. 



Tambahnya lagi karena kemiskinan, tempat tinggal mereka pun juga tidak terlalu diperdulikan. Rumah yang berada di lingkungan dengan sanitasi yang buruk dapat memicu terjadinya penyakit diare dan infeksi cacing usus (cacingan) secara berulang pada anak. Kedua penyakit ini terbukti berperan menyebabkan anak menjadi kerdil. 

3. Wanita yang kekurangan berat badan selama masa kehamilan berisiko memiliki anak stunting. 

Menurut WHO sekitar 20% kasus balita stunting sudah terjadi selama masa kehamilan pada ibu yang kekurangan berat badan. Hal ini mengakibatkan nutrisi yang diterima janin sedikit sehingga pertumbuhan janin di dalam kandungan mulai terhambat dan berlanjut setelah kelahiran. 


Untuk mencegah terjadinya kelahiran anak stunting, ibu hamil hendaknya diberikan asupan gizi yang baik dan seimbang sehingga berat badannya naik. Selain itu pemeriksaan kesehatan ibu selama masa kehamilan juga harus dipantau untuk mencegah terjadinya anemia selama hamil. 

4. ASI ekslusif dan MPASI berperan mencegah anak stunting 

Air Susu Ibu (ASI) berperan penting untuk mencegah terjadi anak stunting karena di dalamnya terkandung nutrisi yang baik unuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. 


Setelah bayi berusia enam bulan, barulah diberi Makanan Pendamping (MP) ASI yang bertujuan untuk mengenalkan jenis makanan baru pada bayi. MPASI juga dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh bayi yang tidak lagi dapat dibantu oleh ASI dan membantu daya tahan tubuh serta perkembangan sistem imunologisnya terhadap makanan dan minunman. 

Namun, banyak juga ibu-ibu yang tidak memberikan ASInya karena berbagai alasan tertentu seperti karena ibunya bekerja, takut anaknya kembung karena minum ASI terus, ASI di payudaranya tidak bisa keluar, dan ada juga ibu yang memberi ASI dan MPASI sebelum bayinya berusia enam bulan. 

Hal ini tentunya dapat mengurangi asupan nutrisi bayi yang terkandung di dalam ASI. Padahal ASI eksklusif haruslah diberikan selama enam bulan pertama setelah kelahiran dan ditambah MPASI sampai usia dua tahun. 

5. Waspadai tanda dan gejala anak stunting 

Kamu perlu mengetahui tanda dan gejala anak mengalami stunting diantaranya; berat badan tidak naik bahkan cenderung menurun, perkembangan tubuh terhambat dan anak terlihat pendek untuk anak usianya, mudah terkena penyakit. 




Bila tanda dan gejala tersebut ada terdapat pada anakmu, periksalah kesehatannya ke fasilitas pelayanan kesehatan secara berkala. Untuk mencegah dampak besar yang diakibatkan oleh stunting. 

6. Stunting berpengaruh pada perkembangan otak anak 

Anak yang mengalami stunting, perkembangan otaknya lebih lambat sehinga mempengaruhi kemampuan belajar dan mental anak. Akibat jangka panjangnya kemampuan anak tidak sesuai dengan usianya yang seharunya di usia tersebut ia sudah bisa melakukan banyak hal, tapi ia tidak mampu melakukannya. 




Hal ini tentu akan berpengaruh pada kehidupan berikutnya karena saat dewasa ia mengalami banyak kesulitan, khususnya untuk mendapatkan penghasilan. Ujung-ujungnya bila ia menikah akan berisiko menurunkan anak yang juga mengalami stunting. 

7. Stunting bukan penyakit 

Perlu diketahui bahwa stunting bukanlah diagnosis suatu penyakit, tapi istilah yang digunakan untuk menyatakan masalah khusus yang berdampak dalam jangka panjang. Penyakit bisa diobati dengan melakukan berbagai pengobatan dan terapi, tapi stunting tidak bisa diobati karena proses terjadinya stunting sejak bayi dalam kandungan dan dua tahun pertama setelah lahir. 

Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya kelahiran stunting nutrisi ibu semasa hamil dan saat anak di dua tahun pertama kelahiran, benar-benar harus dijaga dan dikontrol. 

Itulah tujuh hal yang perlu kamu ketahui tentang stunting, sehingga dengan adanya informasi ini berbagai upaya pencegahan pun dapat dilakukan untuk menuju Indonesia sehat. Terutama bagi pasangan yang akan berkeluarga dan calon orang tua karena waktu terbaik untuk mencegah stunting selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan berikut ini.

1. Dikarenakan stunting berhubungan dengan status gizi, maka gizi ibu selama masa kehamilan haruslah dipenuhi sesuai kebutuhan. 


Caranya dengan mendatangi pelayanan kesehatan seperti Puskesmas karena di sana terdapat program untuk pemberian makanan tambahan pada ibu hamil. Di Puskesmas ibu hamil akan dijelaskan tentang makanan yang harus dikonsumsi untuk menambah energi dan nutrisi ibu selama kehamilan. Selain itu ibu hamil juga diberi tablet zat besi untuk mencegah anemia.

2. Pasangan yang akan berkeluarga hendaknya mempunyai penghasilan supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. 


Terutama kebutuhan nutrisi untuk istri dan anak-anaknya. Maka sangat diharapkan setiap orang tua mempunyai kemapanan finansial.

3. Bagi ibu hamil perlu memeriksakan status kehamilannya ke pelayanan kesehatan. 


Tentunya untuk menjaga bayi yang ada dalam kandungannya mendapatkan nutrisi yang cukup selama masih di dalam kandungan.

4. Sangat dianjurkan bagi ibu menyusui untuk memberikan ASI Ekslusif selama enam bulan dan MPASI kepada bayinya. 



Sumber foto: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id
Nah, itulah yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting sehingga generasi yang dilahirkan akan menjadi generasi Indonesia Sehat.

Referensi

Dinas Kesehatan Pemerintah Aceh. (16/05/2018). Cegah Stunting Itu Penting. Diakses dari https://dinkes.acehprov.go.id/news/read/2018/03/26/205/cegah-stunting-itu-penting.html. Pada tanggal 24 September 2018, pukul 12.45 WIB.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Katalog Dalam Terbitan Kementrian Kesehatan RI.


http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/topik/rilis-media/ 
April 16, 2018

Cara Membantu Orang Dengan Masalah Kejiwaan

by , in
Salam sahabat Perawat Traveler, semoga dalam keadaaan sehat fisik dan jiwa selalu ya.
Di postingan sebelumnya Perawat Traveler telah memperkanalkan macam-macam gangguan jiwa. Bisa baca di sini.

Postingan kali ini, Perawat Traveler akan menyajikan cara membantu orang dengan masalah kejiwaan seperti yang dijelaskan di postingan sebelumnya. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan sesuai dengan masalah kejiwaan yang dialami.

1. Depresi

Orang yang mengalami depresi sudah tentu tidak bisa melakukan aktivitas kesehariannya. Tindakan yang bisa kamu lakukan untuk membantu temanmu atau keluargamu yang mengalami depresi ialah;

a. Membantunya dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan, tidur, menjaga kebersihan diri, berdoa dan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan.

b. Memberikan dukungan emosional dengan cara menemani dan mengajaknya ngobrol, mendengar keluhannya, memotivasi dirinya, dan menunjukkan bahwa kita memahami perasaannya.

c. Memotivasi untuk mulai beraktivitas dengan cara mengajak berinteraksi dengan keluarga atau orang-orang di sekitarnya, melakukan aktivitas ringan sperti membaca, bermain, dan olahraga.

d. Bila penderita menunjukkan gejala seperti berusaha untuk bunuh diri, tidak mau sama sekali bicara dengan orang lain, menangis terus menerus, dan terlihat sedih berkepanjangan, maka kamu wajib membawanya ke pelayanan kesehatan baik itu puskesmas, klinik psikiater, atau rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental.


Ketika seseorang telah mengalami depresi maka dia susah untuk membantu dirinya sendiri keluar dari depresi itu, maka perlu keluarga atau orang terdekat untuk membantunya.

2. Agresif 

Ketika perilaku agresif ini muncul hal yang bisa dilakukan ialah melakukan teknik relaksasi nafas dalam supaya perasaan marah itu dikeluarkan. Namun untuk kasus penderita agresif berat, cara seperti ini tidak berefek lagi, karena dia butuh objek tertentu untuk melampiaskan perasaan marahnya.


Cara kedua yang bisa dilakukan ialah dengan memukul benda-benda lembut sperti bantal dan kasur untuk menyalurkan perasaan marah tersebut. Selain untuk melindungi diri dari cedera, cara ini juga bisa menyalurkan energi negatif yang dibentuk dari perasaan marah.

Bagi kamu yang mempunyai teman atau keluarga yang mempunyai perilaku agresif, kamu harus membantunya dengan cara berikut.

a. Membina hubungan saling percaya dengan cara memberinya kesempatan untuk menyampaikan keluhan, menggali informasi dan menjelaskan situasi, membantu merumuskan pemecahan masalah yang dihadapinya, dan mengajaknya untuk melakukan latihan relaksasi.

b. Bila penderita menunjukkan kemarahan yang tidak bisa ditangani, maka hubungi pihak keamanan untuk membawanya ke pelayanan kesehatan.

c. Perlu diingat bahwa bila penderita dalam keadaan sangat marah maka hendaknya jangan membelakangi korban, menjaga jarak, tetap ada kontak mata tanpa sikap menantang, dan sebaiknya tidak menghadapi seorang diri.
Ketika seseorang mengalami perilaku agresif, dia sulit mengendalikan diri karena gangguan kimia otak yang membuat perilakunya tidak bisa dikontrol oleh otaknya.

3. Perilaku Panik

Panik akan membuat si penderita kehilangan kontrol diri yang membuatnya melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Maka dari itu kita perlu membantunya dengan cara;

a. Membantunya untuk melakukan relaksasi dengan cara melonggarkan pakaian yang ketat, mengajaknya mengatur nafas, memberinya minum, memberikan kata-kata yang menyenangkan, dan mengajaknya berdoa.

b. Memberinya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan jangan menyalahkannya saat dia mulai bercerita.

c. Tetap bersikap tenang dan tidak terpancing dengan kepanikan yang sedang dialami penderita.

d. Jangan berbohong dan memberi harapan terlalu berlebihan.

e. Bila penderita mengalami kesulitan tidur, gangguan mimpi buruk terus menerus, menderita nyeri yang tidak tertahankan, menarik diri dari lingkungan, atau muncul ide untuk bunuh diri, maka segera bawa penderita ke pelayanan kesehatan baik itu puskesmas, klinik psikiater, atau rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental.


4. Stress Pasca Trauma

Untuk gangguan ini penderita masih bisa melakukan pendekatan spiritual seperti berdoa, shalat, dan kegiatan ibadah lainnya. Adapun yang bisa kita lakukan untuk mereka yang stress pasca trauma ialah;

a. Membina hubungan saling percaya dengan cara mendengarkan keluhan penderita.

b. Membantunya mengekspresikan perasaan, bila dia perlu menangis maka temani dan biarkan dia menangis sampai batas tertentu.

c. Membantu memahami kejadian yang dialaminya.

d. Mengajarkannya teknik relaksasi seperti tarik nafas dalam dan terapi hipnosis.

e. Mengenali dan memberi tahu potensi yang masih dimilikinya.

f. Bawa kepada dokter, psikiater, atau psikolog bila penderita merasa perlu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental.


5. Kepikunan

Pahamilah bahwa kepikunan memang sering terjadi pada usia lanjut, maka dari itu kita perlu membantunya untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya.


Jika penderita kehilangan daya ingat ringan, pertimbangkan untuk penggunaan alat bantu atau pengingat. Hindari penempatan penderita di tempat atau situasi yang asing baginya. Temani dan pantau setiap aktivitas yang dilakukan penderita.

6. Psikotik

Penderita psikotik susah membantu dirinya sendiri untuk sembuh, karena gangguan pada sistem saraf pusat yang mengakibatkannya mengalami perubahan perlikau yang susah untuk dikenadalikan.

Untuk itu kita perlu membantunya dengan cara;

a. Membina hubungan baik dan selalu memanggil dengan sebutan namanya.

b. Menerima dan memahami kondisi penderita secara apa adanya.

c. Mendengarkan keluan dengan baik, jangan menyalahkan atau secara berlebihan mengoreksi perilakunya yang kacau.

d. Mencoba menenangkan. Gunakan kata-kata yang lembut, ajak untuk bersikap tenang dan relaks.

e. Memberi kesempatan untuk mencurahkan perasaan dan pikirannya

f. Apabila orang tersebut mangalami halusinasi maka jangan membenarkan halusinasinya, tapijuga jangan membantahnya.

g. Ajak terus dia berbicara supaya bisa mengalihkan halusinasi yang ada pada si penderita.

h. Bawa ke dokter atau psikiater bila langkah-langkah yang disebutkan di atas tidak dapat mengatasi kekacauan perilaku si penderita.


Ketika seseorang mengalami psikotik, dia sulit membedakan hal-hal yang nyata karena pemikiran khayal berupa delusi dan halusinasi memenuhi pikirannya.
7. Somatoform

Bagi yang mengalami somatoform bisa mengatasinya dengan cara memperbanyak ruitinitas seperti olahraga dan aktivitas yang menyenangkan.

Penderita tidak perlu menunggu sampai semua gejala hilang untuk kembali melakukan kegiatan sehari-hari, kerena sakit yang dialami itu hanya penyakit semu yang dibentuk oleh alam bawah sadar si penderita.


Dengan melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan dapat mengalihkan perasaan somatik itu, sehingga sakitnya hilang dengan sendirinya. Yakinkan juga bahwa penyakit tersebut hanya semu, karena sudah ada pemeriksaan fisik yang menyatakan penderita dalam keadaan sehat.

Bila ada teman atau keluargamu mengalami somatoform, maka yang bisa kamu lakukan ialah;

a. Sadari bahwa keluhan penderita adalah nyata, bukan bohong atau rekayasa.

b. Tanyakan tentang keyakinan penderita (apa yang menyebabkan gejala) dan ketakutannya (apa yang ia takutkan terjadi).

c. Berikan keyakinan yang memadai (misalnya nyeri perut tidak berarti kanker).

d. Sarankan penderita untuk tidak memusatkan perhatian terhadap kekhawatiran tentang penyakit.

e. Diskusikan stress emosional yang ada ketika gejala mulai timbul.

f. Memberikan informasi bahwa gejala-gejala yang timbul bila sudah berobat 2 atau 3 kali tidak ada perubahan, mungkin bukan penyakit fisik.

g. Sarankan penderita untuk mendatangi dokter ahli jiwa atau psikiater untuk mengdakan konsultasi.
Ketika seseorang menderita somatoform, dia terlalu fokus terhadap suatu masaslah yang membuat dirinya melupakan aktivitas dan kemampuan positif yang dimiliki dirinya. Tugas kita untuk membantunya mengalihkan fokus itu ke aktivitas yang menyenangkan penderita, sehingga dia akan lupa dengan sakitnya.
Nah, itulah bantuan yang bisa sahabat Perawat Traveler lakukan untuk membantu penderita gangguan jiwa. Bila kita mampu membantu mereka keluar dari gangguannya, maka percayalah bahwa jiwa kita akan terjaga dari sakit-sakit yang dapat mengancam jiwa.

April 03, 2018

Kenali Gangguan Jiwa Sebelum Kamu Mengalaminya

by , in

Di postingan sebelumnya perawat traveler sudah manyajikan informasi tentang,  Enam Tanda Kamu Sehat Jiwa. Nah, sekarang kita akan mengenal gangguan jiwa yang banyak terjadi di masyarakat. Sebelum kamu mengalami ini, ada baiknya mengetahui gejala gangguan jiwa tersebut.

Gangguan jiwa adalah kumpulan gejala-gejala pikiran, perasaan, dan perilaku yang menimbulkan suatu penderitaan (distress), sehingga akan mengakibatkan ketidakmampuan dalam fungsi manusia baik itu melakukan pekerjaan maupun hubungan sosial.

Masalah gangguan jiwa ini masih merupakan masalah yang dianggap tabu oleh masyarakat, sehingga ketika ada keluarga atau diri sendiri mengalami gejala gangguan jiwa malah ditutup-tutupi karena dianggap suatu aib.



Padahal masalah ini harus segera diselesaikan dan mendapatkan pertolongan di pelayanan kesehatan, karena bila dibiarkan maka akan menjadi gangguan jiwa berat yang biasa disebut skizofrenia. Orang yang menderita skizofrenia akan menyebabkan perubahan proses berpikir dan tanggapan emosi bagi penderitannya.

Baiklah, mari kita lihat satu persatu gangguan-gangguan jiwa yang banyak terjadi di masyarakat.

1. Depresi


Depresi biasanya disebabkan karena sedih yang mendalam. Gejalanya ditandai dengan perubahan fisik seperti sakit kepala, nyeri punggung, gangguan tidur, gangguan makan, letih yang berlebihan, sering terbangun di malam hari, dan penurunan gairah seksual

Selain itu gejalanya juga terlihat dari perilaku yang ditunjukkan, seperti menghindari atau menolak berinteraksi dengan orang lain, putus asa, merasa tidak berharga, tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, dan terkadang mempunyai pikiran atau usaha untuk bunuh diri.

2. Agresif


Bila kamu sering marah dan bernafsu untuk menyerang orang lain atau menyakiti dirimu sendiri, hati-hatilah berarti kamu mengalami gangguan jiwa.

Gejala fisik yang bisa diamati saat perilaku marah itu muncul ialah ekspresi wajah merah, tangan mengepal, dan rahang terkatup. Sedangkan bentuk perilaku yang ditunjukkan ialah menolak berhubungan dengan orang lain, menyalahkan orang lain atau Tuhan, kasar dan tidak tenang, mengancam, dan menyerang atau merusak lingkungan sekitarnya.

3. Perilaku Panik


Sadarkah kamu bahwa panik juga termasuk gangguan jiwa? Perilaku panik ini tentu sangat membahayakan karena bila tidak diobati segera ini malah mengganggu aktivitas kehidupan si penderita.

Genjala yang timbul karena panik yaitu jantung berdebar-debar, sesak nafas, keringat dingin, gemetar dan menggigil, sakit kepala, dan merasa tidak berdaya seperti dirinya lemah seolah-olah akan mati.

Serangan panik juga mengakibatkan perubahan perilaku yang tidak terkontrol seperti berlari-lari tanpa tujuan, bingung karena tidak tahu harus berbuat apa, mondar-mandir, merasa takut, sering berbicara dengan nada tinggi, dan menangis meraung-raung.

4. Stress Pasca Musibah


Musibah juga dapat memicu munculnya gangguan jiwa di masyarakat, apalagi kalau ada riwayat pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya.

Gejala fisik yang muncul berupa mimpi buruk yang menakutkan tentang kejadian trauma, gangguan tidur karena mimpi buruk tersebut sehingga penderita menjadi lelah secara fisik, muka pucat, dan jantung berdebar-debar bila dihadapkan pada situasi yang mengingatkan kembali pada kejadian yang traumatik tersebut.

Perilaku yang sering ditunjukkan yaitu merasa ketakutan, merasa sedih dan putus asa, mudah terkejut, dan keadaan ini terus menerus dirasakan baik waktu tidur maupun pada waktu terjaga.

5. Kepikunan


Faktor usia lanjut mengakibatkan seseorang mengalami kepikunan. Gejala fisik yang dapat dilihat berupa penurunan daya ingat mengenai hal yang baru terjadi, misalnya penderita lupa apakah sudah makan, mandi, dan lupa meletakkan barang-barangnya di mana.

Kepikunan juga akan menyebabkan penurunan daya pikir, seperti tak mampu lagi berhitung yang biasanya mudah dilakukan, penurunan daya nilai seperti sulit membedakan yang baik dan yang buruk, penurunan kemampuan berbahasa yaitu sulit untuk mencari kata-kata untuk menyatakan pendapat, dan penurunan fungsi sehari-hari seperti berpakaian, mandi, mencuci, memasak, serta tidak mampu melakukan kegiatan lainnya sendiri.

Perilaku yang ditunjukkan dapat berupa kehilangan kendali emosional, misalnya mudah bingung, menangis atau mudah tersinggung. Selain itu emosinya juga sering meledak-ledak, curiga, dan membuat gaduh.

6. Psikotik


Gangguan jiwa ini mengacu pada perilaku kacau yang ditandai dengan gejala fisik yaitu penampilannya yang tidak terawat dan tidak sesuai dengan situasi.

Perilakunya terlihat dari bicaranya yang kacau dan tidak dapat dimengerti, sering tertawa atau bicara sendiri, mondar-mandir tanpa tujuan, mengulang perbuatan tertentu tanpa tujuan yang jeas misalnya mencuci tangan berulang-ulang, gelisah, tidak tidur berhari-hari, dan mengurung diri di kamar.

Selain itu orang yang mengalami psikotik juga mempunyai keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan dan budaya yang disebut dengan waham. Misalnya menganggap dirinya sebagai Tuhan, Nabi, meyakini ada orang lain yang akan mencelakakan dirinya, dan berbagai persoalan yang tidak benar secara kenyataan. Terkadang halusinasi pun juga muncul pada orang yang mengalami psikotik ini.

7. Somatoform


Orang yang mengalami somatoform terlihat sehat dan normal dari penampilan fisiknya, namun mereka sering mengeluh sakit pada bagian tubuh tertentu. Keluhan mungkin tunggal atau banyak, dan bisa berubah dari waktu ke waktu.

Mereka sering berkunjung ke tenaga kesehatan atau fasilitas kesehatan secara berulang kali, walaupun hasil pemeriksaan fisik tidak menunjukkan gejala penyakit apa pun. Mereka meyakini dirinya sakit dan terus-terus mengeluhkan tentang sakitnya sehingga mengakibatkan mereka mengalami cemas yang berlebihan serta depresi.

Itulah gangguan-gangguan jiwa yang sering kita jumpai di masyarakat. Apakah sahabat perawat traveler mengalami hal itu?

Tunggu postingan berikutnya tentang penatalaksananaan atau solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan jiwa tersebut.

Salam sehat jiwa.
Februari 08, 2018

Enam Tanda Kamu Sehat Jiwa

by , in

Salam sahabat perawat traveller.

Postingan kali ini aku akan membahas tentang enam tanda sehat jiwa. Ini sangat penting kamu ketahui karena kamu bisa mengantisipasi dirimu untuk tidak mengalami gangguan jiwa.

Dengan melihat Rentang Respon Kesehatan Jiwa kamu juga bisa mengetahui bagaimana kondisi kesehatan jiwamu saat ini.
Menurut UU No.23 1992 tentang kesehatan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera baik badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Jadi yang dikatakan sehat bukan hanya sekadar sehat fisik saja, tapi juga jiwa, dan sosial. Nah, sekarang kita lihat apa saja tanda kamu dikatakan sehat jiwa.

1. Menyadari sepenuhnya kemampuan diri

Orang yang sehat jiwa akan menyadari kemampuan dirinya, sehingga dengan kemampuan tersebut bisa membuatnya hidupnya lebih produktif.


Aku mempunyai kemampuan menulis, jadi aku menggunakan kemampuan ini untuk membuat berbagai macam tulisan yang membuat orang mengenal diriku sebagai penulis.

Sebagai lulusan sarjana keperawatan, aku juga sangat suka ilmu tentang kesehatan jiwa yang membuat diriku membentuk sebuah komunitas yang fokus tentang kesehatan jiwa yaitu Griya Schizofren Aceh.

Jadi, temukanlah apa yang menjadi kemampuan dirimu supaya jiwamu tetap sehat.

2. Mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar

Siapa sih yang tidak mempunyai masalah? Setiap orang mempunyai masalah dengan kehidupannya dan masalah itu sebenarnya adalah proses pendewasaan diri.


Mereka yang dikatakan sehat jiwa ialah yang mampu menghadapi stress kehidupan dan mencari penyelesaian masalah dari stressor yang dihadapinya.

Stress di sini bukan bermakna gangguan jiwa atau yang orang awam sebut ‘gila’. Tapi lebih kepada tekanan emosional yang diterima diri karena ada hal-hal yang kurang sisenangi atau ditakuti.

3. Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhan hidup

Ini perlu diingat, bila produktifitas kerjamu menurun sehingga mempengaruhi kebutuhan hidupmu berarti kamu sedang mengalami masalah kejiwaan.


Tahun 2017 lalu pada peringatan mental health day di 10 Oktober mengangkat tema tentang Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja. Hal ini dikarenakan banyak para pekerja yang kurang nyaman dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya, sehingga membutuhkan pertolongan kesehatan jiwa untuk meningkatkan produktifitas kerjanya.

4. Dapat berperan serta dalam lingkungan hidupnya

Bila kamu tergerak untuk berperan serta dalam kehidupan lingkunganmu seperti membantu temanmu yang sedang kesusahan, menyantuni anak yatim, dan terlibat dalam melakukan aksi sosial berarti kamu mempunyai jiwa yang sehat.


Kegiatan sosial yang kamu lakukan juga berdampak baik bagi kesehatan jiwamu, karena ketika kita memberikan kebahagiaan kepada orang lain ada perasaan senang yang membuat kita merasa berguna dan bermanfaat untuk orang lain.
Sebaik-baiknya manusia ialah yang dapat memberi manfaat untuk orang lain.
5. Menerima baik apa yang ada pada dirinya

Semua yang diberikan Tuhan kepada kita merupakan hal terbaik yang harus kita terima dan syukuri. Tidak pantas rasanya menyalahkan Tuhan bila keinginanmu tidak sesuai dengan kondisi dirimu.

Misalanya kamu ingin kurus seperti si A, hidungmu mancung seprti si B, dan wajahmu cantik seperti si C yang membuat dirimu melakukan berbagai cara untuk bisa seperti mereka. Orang yang seperti ini sangat berpotensi untuk mengalami ganguan jiwa karena mereka tidak bisa menerima dengan baik apa yang ada pada dirinya.

6. Merasa nyaman dengan orang lain

Tentu orang yang sehat jiwa akan merasa nyaman saat berada dengan orang lain. Mereka bisa berinteraksi dengan baik sehingga terjalin hubungan emosional yang membuat perasaan menjadi nyaman.



Itulah enam tanda kamu dikatakan sehat jiwa. Bila dua atau lebih diantaranya tidak kamu miliki, maka kamu perlu mendapat pertolongan dengan mendatangi puskesmas untuk berkonsultasi dengan perawat kesehatan jiwa atau dengan dokter GP+.
Mencegah lebih baik dari pada mengobati sebelum semuanya datang terlambat.
Sumber tulisan dari steemit @yellsaints24 

My Instagram